Siswa kelas 3-6 belajar bab sosial IPAS bersama tutor privat: membaca peta kota dan provinsi tempat tinggalnya, mengenal keragaman budaya dan kearifan lokal, memahami kegiatan ekonomi di sekitarnya, serta sejarah pahlawan daerah. Tutor bisa datang ke rumah atau mengajar secara online, dan biaya per jamnya paling rendah Rp48.000 saat sebulan berisi 28 sesi.

Les IPS SD adalah les privat untuk bab sosial dalam IPAS, mapel gabungan IPA dan IPS bagi siswa kelas 3 sampai 6. Tutor EduPoint mengajar di rumah atau online memakai buku dan jadwal ulangan siswa sendiri. Per jam mulai Rp48.000 dengan 28 sesi sebulan, pilihan durasinya 60, 90, atau 120 menit.
Format les IPS SD bisa satu tutor satu siswa atau kelompok kecil dua siswa. Angka di kartu adalah tarif per sesi dari mesin harga EduPoint untuk jenjang SD.
Cocok untuk siswa kelas 3 dan 4 yang perlu pendampingan rutin per bab, dengan rentang konsentrasi yang masih pendek.
Harga pada paket 28 sesi per bulan, sesi 60 menit. Pertemuan lebih sedikit, harga per sesi naik.
Memberi waktu untuk latihan peta, menyusun rangkuman, atau mengerjakan proyek IPAS dari sekolah dalam satu pertemuan.
Harga pada paket 28 sesi per bulan, sesi 90 menit. Pertemuan lebih sedikit, harga per sesi naik.
Dua siswa dari kelas yang sama belajar bersama, misalnya dua saudara kembar, teman sekelas, atau tetangga yang memakai buku IPAS yang sama.
Harga pada paket 28 sesi per bulan, sesi 60 menit. Pertemuan lebih sedikit, harga per sesi naik.
Tarif online dan tatap muka sama — selisih angka antar kartu hanya karena durasi sesinya.
Susunan di bawah mengikuti capaian pembelajaran IPAS per fase. Satu fase berlangsung dua tahun, jadi tutor menyesuaikan urutan bab dengan buku dan jadwal ulangan di sekolah siswa.
Judul bab kelas 4 mengikuti buku siswa IPAS edisi revisi 2023 terbitan Kemendikbudristek. Kalau sekolah memakai buku dari penerbit lain, tutor mengikuti buku yang dipegang siswa.
Bagian sosial Fase B berangkat dari tempat yang paling dekat dengan siswa. Tutor les IPS SD membantu siswa mengenali orang-orang di sekitarnya, wilayah tempat tinggalnya, dan cara uang dipakai sehari-hari.
Di buku siswa kelas 4, enam dari delapan bab membawa muatan sosial. Siswa kelas 4 yang ikut les IPAS biasanya membawa bab yang sedang dibahas di kelas, lalu tutor menyiapkan latihan dari bab itu.
Cakupan Fase C melebar dari daerah sendiri ke seluruh Indonesia. Di les IPAS kelas 5 dan 6, siswa berlatih membaca peta yang lebih luas dan menghubungkan budaya daerahnya dengan keragaman nasional.
Capaian IPAS mengajarkan pemahaman dan keterampilan proses sebagai satu kesatuan. Karena itu tugas IPS di SD sering berupa pengamatan atau proyek kecil, dan tutor melatih langkah-langkahnya satu per satu.
Kebutuhan siswa kelas 3 berbeda dengan siswa kelas 6. Pendaftar cukup menceritakan kelas, sekolah, dan bagian IPAS yang terasa berat, lalu kebutuhan itu menjadi dasar mencarikan tutor.
Kelas 3 adalah tahun pertama IPAS. Siswa mulai mengenal istilah sosial dan membaca peta daerahnya sendiri, dan les privat membantu kebiasaan belajar IPAS terbentuk sejak awal.
Rekomendasi:
Sebagian besar bab buku IPAS kelas 4 bermuatan sosial, dari tempat tinggal dan budaya daerah sampai peran di masyarakat. Les membantu siswa mengikuti bab demi bab tanpa menumpuk.
Rekomendasi:
Peta seluruh Indonesia, sejarah pahlawan, dan kegiatan ekonomi masyarakat menuntut siswa menghubungkan banyak informasi. Tutor melatih siswa merangkum dan menjelaskan ulang dengan bahasanya sendiri.
Rekomendasi:
Siswa dari sekolah dengan kurikulum ini juga bisa dicarikan tutor untuk materi sosialnya, dengan bahasa pengantar Indonesia, dwibahasa Indonesia-Inggris, atau Inggris penuh.
Rekomendasi:
Penelitian tentang kesulitan belajar IPS di kelas 4 dan 5 SD menemukan pola yang berulang: konsep sosial terasa jauh, materi cepat terlupa, dan cara belajar yang hanya mencatat membuat minat turun. Berikut cara les privat IPAS SD menjawab tiap pola itu.
Kenapa terjadi
Siswa usia SD masih belajar paling mudah dari hal yang bisa dilihat dan disentuh, sementara konsep sosial bersifat abstrak.
Cara kami mengatasinya
Tutor berangkat dari kehidupan siswa sendiri: jadwal piket kelas untuk membahas tugas dan tanggung jawab, obrolan dengan pedagang di dekat rumah untuk membahas interaksi, lalu baru masuk ke istilah di buku.
Kenapa terjadi
Materi IPS sering dibaca sekali lalu ditinggal, sehingga hubungan antarbab tidak terbentuk.
Cara kami mengatasinya
Setiap sesi dibuka dengan ulasan singkat bab sebelumnya, siswa menjelaskan ulang dengan kalimatnya sendiri, dan istilah penting dikumpulkan dalam kartu yang dibuka lagi menjelang ulangan.
Kenapa terjadi
Capaian Fase B meminta siswa menemukan letak daerahnya di peta konvensional maupun digital, lalu Fase C memperluasnya ke kondisi geografis seluruh Indonesia.
Cara kami mengatasinya
Latihan peta dimulai dari wilayah yang dikenal siswa, seperti rute rumah ke sekolah di peta digital, kemudian naik ke batas kabupaten, provinsi, dan pulau dengan peta cetak.
Kenapa terjadi
Keragaman sosial budaya dan persebaran sumber daya alam termasuk materi yang dilaporkan paling sulit di kelas 4.
Cara kami mengatasinya
Tutor mengaitkan tiap daftar dengan hal yang sudah dikenal siswa, misalnya makanan khas, rumah adat, dan hari raya yang dirayakan teman sekelasnya, lalu menyusun tabel sederhana bersama siswa.
Kenapa terjadi
Metode ceramah dan media yang kurang interaktif tercatat sebagai faktor yang menurunkan minat belajar IPS.
Cara kami mengatasinya
Sesi diisi kegiatan pendek yang melatih keterampilan proses IPAS: mewawancarai anggota keluarga tentang sejarah keluarga, mencatat harga barang untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, lalu menceritakan hasilnya.
Pola di atas diambil dari studi JIPSINDO 2022 (kelas 4 SD) dan Ainara Journal 2024 (IPS muatan IPAS kelas 5). Tutor tetap memulai dari kesulitan yang benar-benar dialami siswa di sesi pertama.
Pengajar untuk muatan sosial IPAS kelas 3 sampai 6 ini menempuh Pendidikan IPS, Tadris IPS, atau Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Siswa dipertemukan dengan tutor menurut kelasnya, bab sosial yang sedang berjalan di sekolah, dan kebiasaan belajarnya di rumah.

Pendidikan IPS, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Magister Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Keragaman budaya lewat kehidupan sehari-hari“Pelajaran keberagaman suku dan adat sering terasa jauh bagi anak kelas 4. Agung, yang menempuh Pendidikan IPS di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lalu Magister Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang, memulainya dari tetangga, makanan, dan perayaan yang dikenal siswa di lingkungannya sendiri.”

Pendidikan IPS, Universitas Pendidikan Indonesia
Membaca peta dan arah mata angin“Simbol peta, skala, dan arah mata angin adalah bab yang paling sering membuat siswa ragu menjawab. Ira, alumni Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia, melatihnya dengan denah rumah dan rute ke sekolah sebelum siswa beralih ke peta provinsi di buku.”

Tadris IPS, UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember
Kegiatan ekonomi dan pekerjaan di sekitar kita“Dari pasar, warung, sampai sawah, Lana mengajak siswa menggolongkan kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi yang benar-benar mereka lihat setiap hari. Bekal Tadris IPS dari UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember membuat contoh-contohnya dekat dengan kehidupan desa maupun kota.”

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Terbuka; Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Yogyakarta
Menyambungkan IPS dengan pelajaran kelas lainnya“Sebagai lulusan PGSD Universitas Terbuka yang kemudian mendalami Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Yogyakarta, Atul terbiasa melihat IPAS bersanding dengan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila. Bacaan bab sosial dipakai sekaligus untuk melatih siswa menemukan ide pokok dan menuliskannya dengan kalimat sendiri.”

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sejarah daerah dan tokoh pahlawan“Kerajaan Nusantara, masa penjajahan, dan tokoh pahlawan muncul di kelas 5 dan 6 dengan banyak nama dan tahun. Zaska menempuh Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menyusun garis waktu bergambar bersama siswa, supaya urutan peristiwa mudah diingat saat ulangan.”

Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya
Lingkungan, bencana, dan sikap tanggap“Gempa bumi, gunung meletus, dan sampah di sungai adalah topik IPAS yang sering muncul di berita. Jihan, lulusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Surabaya, membahasnya bersama siswa dari kejadian nyata di daerah mereka, lalu menutup sesi dengan langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah dan di sekolah.”
Tarif les IPS SD di EduPoint dimulai dari Rp48.000 per jam, angka yang berlaku saat siswa mengambil 28 sesi dalam sebulan. Bila pertemuannya lebih jarang, tarif per sesi naik sedikit. Total akhirnya keluar di formulir pendaftaran setelah kelas, kota, durasi sesi, dan banyaknya pertemuan per bulan diisi.
Mulai dari
Rp 48.000 / jam
Harga final dihitung saat daftar.
Tarif per jam terhemat, dihitung dari paket 28 sesi per bulan berdurasi 120 menit. Harga per sesi (60, 90, atau 120 menit) tercantum di bagian pilihan format.
Daftar & Hitung HargaBayar fleksibel — QRIS, Virtual Account, Alfamart, Indomaret, transfer & e-wallet.
Dalam sebulan, siswa bisa mengambil antara 4 dan 28 pertemuan, masing-masing 60, 90, atau 120 menit. Biaya perjalanan tutor sudah masuk ke tarif, dan biaya registrasi terlihat utuh di formulir sebelum membayar. Pembayaran bisa lewat kartu kredit atau debit, dompet digital, QRIS, transfer antarbank, Virtual Account, sampai kasir Alfamart dan Indomaret. Uang deposit untuk satu bulan les terlindungi garansi 30 hari.
Pertanyaan yang paling sering muncul sebelum siswa mulai les IPAS SD.
Materi sosial di IPAS tersusun seperti lingkaran yang terus melebar. Di kelas 3 dan 4 (Fase B), titik awalnya adalah tempat yang paling dekat dengan siswa: rumah, kelas, dan lingkungan tempat tinggal. Siswa belajar siapa yang memegang peran dan tanggung jawab di sekitarnya, bagaimana orang saling berinteraksi, lalu mulai mencari letak kota atau kabupaten dan provinsinya sendiri di peta cetak maupun peta digital. Fase yang sama juga membahas bentang alam dan pekerjaan warga yang tinggal di sana, budaya dan kearifan lokal, sejarah keluarga, perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta nilai mata uang.
Di kelas 5 dan 6 (Fase C), lingkaran itu melebar ke seluruh Indonesia. Peta yang dibaca kini peta nasional beserta kondisi geografisnya, kisah pahlawan diangkat dari lingkungan sekitar tempat tinggal, keragaman budaya dikaitkan dengan kebinekaan, dan kegiatan ekonomi warga dibahas sampai ke ekonomi kreatif.
Pola ini penting dipahami dalam les IPS SD karena tiap fase bertumpu pada fase sebelumnya. Siswa kelas 5 yang kesulitan membaca peta Indonesia bisa jadi belum lancar menemukan provinsinya sendiri, padahal itu bekal dari Fase B. Tutor yang memahami urutan ini bisa mundur sebentar ke bekal yang tertinggal, lalu kembali ke bab yang sedang berjalan di kelas. Karena satu fase berlangsung dua tahun, urutan bab di tiap sekolah bisa berbeda, dan tutor mengikuti buku yang dibawa siswa.
Peta muncul di capaian IPAS Fase B maupun Fase C, sehingga keterampilan membaca peta terbawa sepanjang kelas 3 sampai 6. Di kelas 3 dan 4, siswa diminta menemukan letak kota atau kabupaten dan provinsinya. Di kelas 5 dan 6, cakupannya bergeser ke letak dan kondisi geografis Indonesia. Kedua tuntutan ini memakai bekal yang sama: memahami simbol, arah mata angin, skala, dan legenda.
Urutan latihan yang dipakai tutor IPS SD dimulai dari ruang yang dikenal siswa. Siswa menggambar denah kamar atau kelasnya, lalu denah jalan dari rumah ke sekolah lengkap dengan tanda arah utara. Setelah itu denah buatannya dibandingkan dengan tampilan peta digital di lokasi yang sama, sehingga konsep skala dan simbol terasa masuk akal. Peta cetak provinsi dan peta Indonesia baru dipakai sesudahnya, untuk mencari pulau, provinsi, laut, dan selat.
Peta juga berguna sebagai jembatan ke bab lain. Bentang alam di peta bisa dikaitkan dengan pekerjaan warga, persebaran budaya bisa ditandai per provinsi, dan kegiatan ekonomi bisa dihubungkan dengan sumber daya tiap daerah. Lewat cara ini siswa melihat bab-bab IPS sebagai satu gambaran yang saling terhubung. Di les IPAS kelas 5 dan 6, latihan mengisi peta kosong secara berkala menjadi bahan ulangan yang praktis, karena siswa langsung tahu provinsi mana yang letaknya masih tertukar.
Bahan latihan IPAS bagian sosial banyak tersedia di sekitar rumah, dan kegiatan nyata membantu konsep yang abstrak terasa dekat bagi siswa usia SD. Beberapa kegiatan pendek yang bisa dijalankan di sela pekan sekolah:
- Membuka peta digital bersama, mencari rumah, sekolah, dan kelurahan, lalu memperkecil tampilan sampai batas kabupaten dan provinsi terlihat. - Mewawancarai kakek, nenek, atau tetangga lama tentang asal-usul keluarga dan perubahan kampung, lalu menuliskannya dalam lima atau enam kalimat. - Menyusun daftar belanja mingguan, memilah mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan, sambil menghitung uang yang terpakai. - Mencatat pekerjaan orang di sekitar rumah, misalnya pedagang, petani, nelayan, atau penjahit, lalu menghubungkannya dengan bentang alam setempat. - Mengumpulkan nama makanan khas, lagu daerah, dan pakaian adat dari daerah asal teman sekelas.
Kegiatan seperti ini sejalan dengan keterampilan proses dalam capaian IPAS, yaitu mengamati, bertanya, menyelidiki, mengolah informasi, merefleksikan, dan menyampaikan hasil. Bagian terpentingnya ada di langkah terakhir: setelah kegiatan selesai, siswa bercerita dengan kalimatnya sendiri. Cerita lisan itu memperlihatkan bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih kabur. Lima belas menit beberapa kali seminggu lebih ringan dijalankan siswa SD daripada satu sesi panjang yang menumpuk menjelang ulangan.
Pertanyaan yang sering muncul sebelum mendaftar les IPS SD adalah kaitannya dengan TKA dan ANBK. Jawabannya perlu dipisah per asesmen. TKA jenjang SD menguji Bahasa Indonesia dan Matematika, dan IPAS tidak termasuk mata ujinya. ANBK di SD diikuti siswa kelas 5 dengan komponen literasi membaca, numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar, juga tanpa mata uji IPAS.
Artinya, nilai IPAS siswa SD terbentuk di sekolah: dari ulangan bab, tugas pengamatan, proyek kelompok, dan presentasi yang dinilai guru kelas. Persiapan yang paling berguna adalah persiapan yang mengikuti irama sekolah itu.
Menjelang ulangan bab, siswa bisa menyiapkan kartu istilah, misalnya kearifan lokal, interaksi sosial, atau ekonomi kreatif, masing-masing dengan contoh dari daerahnya sendiri. Peta kosong yang diisi ulang nama provinsi dan pulau berguna untuk bab geografi. Untuk tugas proyek, siswa berlatih menyusun langkahnya: menentukan pertanyaan, mengumpulkan informasi, merapikan temuan dalam tabel sederhana, lalu mencoba presentasi di depan anggota keluarga.
Siswa yang juga sedang menyiapkan TKA bisa mencatat Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPAS dalam satu pendaftaran les privat SD, karena pendaftaran SD di EduPoint dicatat per kelas. Pembagian waktunya dibicarakan saat konsultasi, misalnya pertemuan tertentu untuk mapel TKA dan pertemuan lain untuk bab IPAS yang sedang berjalan.
Les privat IPAS SD paling terarah ketika titik macetnya diketahui sejak awal. Saat konsultasi, pendaftar bisa menyebutkan kelas siswa, judul buku IPAS dari sekolah, bab yang sedang berjalan, dan tanggal ulangan terdekat. Keterangan itu yang dipakai EduPoint untuk mencarikan tutor yang sesuai.
Di pertemuan pertama, tutor mengajak siswa menceritakan ulang bab terakhir dan mengerjakan beberapa soal dari bukunya. Dari situ jenis kesulitannya terlihat: istilah yang belum dipahami, peta yang belum terbaca, atau materi yang sebenarnya sudah dimengerti tetapi sulit dituangkan menjadi jawaban tertulis. Ketiganya ditangani dengan cara berbeda, jadi rencana pertemuan berikutnya disusun dari temuan tersebut.
Panjang sesi menyesuaikan usia siswa dan isi pertemuan. Siswa kelas 3 umumnya cukup dengan 60 menit, pengerjaan proyek atau latihan peta kelas 5 dan 6 lebih leluasa dalam 90 menit, dan 120 menit cocok untuk pertemuan yang menggabungkan beberapa mapel. Jam belajar IPAS boleh diatur dari pagi pukul 06.00, dan sesi IPAS terakhir selesai pukul 23.00, mengikuti jam pulang sekolah serta les atau kegiatan lain siswa, dan sesinya bisa berlangsung tatap muka di rumah siswa atau online melalui Zoom dan Google Meet.
Orang tua atau wali menerima laporan perkembangan secara berkala, sementara siswa bisa memutar rekaman sesi online dan mengerjakan latihan mandiri di aplikasi learner EduPoint. Bila gaya mengajar tutor terasa kurang cocok, penggantian tutor bisa diminta tanpa biaya.
Artikel pendukung untuk membantu Anda memutuskan dan memaksimalkan hasil belajar.
Mapel dan program lain yang sering dipelajari bersama IPAS di jenjang SD.
Sebutkan siswa duduk di kelas berapa, judul buku IPAS dari sekolahnya, serta bab sosial yang sedang berjalan. EduPoint mencarikan tutor yang cocok, lalu les bisa dimulai di rumah atau online.