Belajar UI/UX design secara privat lewat video call, satu guru satu siswa, dari kota mana pun. Alur belajarnya mengikuti proses kerja desainer sungguhan: memahami pengguna, menyusun wireframe, merancang antarmuka di Figma, lalu mengujinya. Setiap topik dikerjakan sebagai proyek, sehingga di akhir program Anda memegang portofolio hasil kerja sendiri.

Menguasai desain aplikasi dan website, dari riset pengguna dan wireframe sampai antarmuka di Figma serta prototype yang bisa diklik, itulah inti les UI/UX design online ini. Formatnya privat, satu guru dan satu siswa lewat panggilan video, dengan sesi 60, 90, atau 120 menit yang bisa dijadwalkan pukul 06.00 hingga 23.00 WIB bersama tutor dari 60+ kota di Indonesia.
Ada tiga pilihan durasi, tetapi satu hal selalu sama pada ketiganya: guru dan siswa berhadapan langsung lewat video call sambil berbagi layar Figma sepanjang sesi.
Satu topik terarah per pertemuan. Pas untuk jadwal padat dan belajar yang konsisten sedikit demi sedikit.
Harga pada paket 28 sesi per bulan, sesi 60 menit. Pertemuan lebih sedikit, harga per sesi naik.
Ruang cukup untuk teori dan praktik Figma dalam satu pertemuan, termasuk review tugas yang lebih dalam.
Harga pada paket 28 sesi per bulan, sesi 90 menit. Pertemuan lebih sedikit, harga per sesi naik.
Simulasi kerja proyek: mengerjakan satu alur dari brief sampai prototype dengan pendampingan penuh tutor.
Harga pada paket 28 sesi per bulan, sesi 120 menit. Pertemuan lebih sedikit, harga per sesi naik.
Tarif online dan tatap muka sama — selisih angka antar kartu hanya karena durasi sesinya.
Sebelum sesi pertama, tutor memetakan kemampuan awal dan tujuan Anda, lalu memilih jalur yang paling pas. Tiga jalur di bawah ini yang paling sering dipakai di les UI/UX online.
Mulai dari cara berpikir desainer dan pengenalan Figma dari nol. Target jalur ini: nyaman memakai tools dan menyelesaikan wireframe serta UI sederhana pertama Anda.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Kemampuan visual Anda menjadi modal besar. Jalur ini menambahkan lapisan UX di atasnya: berpikir dari data pengguna, menata flow, dan bekerja dengan komponen supaya desain konsisten dan punya alasan.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Fokus pada satu sampai dua studi kasus yang dikerjakan tuntas: dari brief, riset, desain, usability testing, sampai narasi case study yang enak dibaca perekrut maupun klien.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Enam modul yang disusun mengikuti proses desain produk digital dari hulu ke hilir. Tutor menyesuaikan kedalaman tiap modul dengan titik mulai dan tujuan Anda.
Urutan modul fleksibel. Siswa yang sudah terbiasa dengan desain visual bisa mempercepat modul UI dan memperdalam riset pengguna, begitu pula sebaliknya.
Membangun cara berpikir desainer: memulai dari masalah pengguna, baru kemudian solusi visual.
Menata isi produk supaya pengguna menemukan yang dicari tanpa kebingungan.
Menuangkan ide ke kerangka kasar sebelum menyentuh warna dan tipografi.
Modul praktik terbesar: mengubah wireframe menjadi antarmuka yang rapi dan konsisten.
Menghidupkan desain menjadi prototype yang bisa diklik dan siap diserahkan ke developer.
Menguji desain ke pengguna sungguhan, lalu merangkum seluruh proses menjadi portofolio.
Empat kelompok yang paling sering kami dampingi di program ini, masing-masing dengan penekanan materi yang berbeda.
Siswa SMA/SMK multimedia atau RPL dan mahasiswa DKV, informatika, maupun jurusan lain yang ingin menguasai desain produk digital sejak dini.
Rekomendasi:
Pekerja dari bidang lain yang menyiapkan perpindahan ke dunia desain produk. Belajar malam atau akhir pekan sambil tetap bekerja.
Rekomendasi:
Sudah kuat di visual, ingin menambah kemampuan UX dan Figma supaya jangkauan proyek yang bisa ditangani makin luas.
Rekomendasi:
Ingin memahami cara kerja desain produk agar bisa menilai desain aplikasi sendiri dan berkomunikasi efektif dengan tim atau vendor.
Rekomendasi:
Pola berulang yang tutor kami temui saat menerima siswa pindahan dari belajar otodidak, beserta cara kami menanganinya di les privat.
Kenapa terjadi
Kebanyakan tutorial gratis mengajarkan tools lebih dulu, sehingga pemula terbiasa memulai dari tampilan dan kesulitan menjawab pertanyaan paling dasar: desain ini menyelesaikan masalah siapa?
Cara kami mengatasinya
Tutor membiasakan urutan kerja yang benar sejak proyek latihan pertama: rumuskan problem statement dan profil pengguna dulu, baru masuk ke wireframe dan UI.
Kenapa terjadi
Karya di Dribbble atau Behance tampil memukau, tetapi konteks bisnis dan data penggunanya jarang ikut ditampilkan. Hasil tiruannya cantik di mata, rapuh saat ditanya.
Cara kami mengatasinya
Setiap keputusan desain dilatih untuk punya alasan. Tutor rutin bertanya kenapa tombol diletakkan di situ dan kenapa memilih pola itu, sampai menjelaskan desain menjadi refleks Anda.
Kenapa terjadi
Langsung mendesain high-fidelity terasa lebih cepat di awal, namun perombakan struktur di tahap akhir jauh lebih mahal waktunya daripada merapikan kerangka sejak dini.
Cara kami mengatasinya
Di les ini wireframe dijadikan kebiasaan lewat latihan singkat 15 sampai 30 menit per layar, sehingga terasa ringan dan manfaatnya langsung kelihatan saat revisi.
Kenapa terjadi
Penilai portofolio ingin melihat cara Anda berpikir: riset apa yang dilakukan, pilihan apa yang ditimbang, dan bagaimana desain diuji. Deretan gambar saja belum menceritakan itu.
Cara kami mengatasinya
Setiap proyek latihan didokumentasikan sejak awal dengan kerangka case study: masalah, proses, solusi, hasil pengujian. Di akhir program tinggal dirapikan, ceritanya sudah utuh.
Kenapa terjadi
Materi UI/UX di internet sangat banyak dan arahnya beragam, sehingga energi habis untuk memulai hal baru terus-menerus sementara tidak ada satu karya pun yang selesai.
Cara kami mengatasinya
Tutor mengunci satu proyek utama sebagai tulang punggung belajar. Semua materi baru dikaitkan ke proyek itu sampai tuntas, baru kemudian menambah kasus berikutnya.
Semua penanganan di atas dijalankan di dalam sesi reguler, tanpa modul tambahan berbayar. Tutor menilai hambatan mana yang paling relevan untuk Anda di sesi pemetaan awal.
Sejak 2016, EduPoint mendampingi lebih dari 70 ribu pelajar lewat 300+ program les privat. Untuk UI/UX online, tujuh hal ini yang paling dirasakan siswa.
Tanpa kelas besar dan tanpa antre bertanya. Materi, kecepatan, dan contoh kasus mengikuti kebutuhan Anda sendiri.
Pengajar UI/UX kami berasal dari mahasiswa dan alumni terbaik bidang desain serta praktisi produk digital yang bergabung dan lolos seleksi EduPoint.
Sesi bisa diatur pagi sebelum kuliah, malam sepulang kerja, atau akhir pekan. Jadwal disepakati langsung dengan tutor.
Rekaman tiap sesi tersimpan otomatis dan progres Anda tercatat dalam rapor di app.edupoint.id. Di aplikasi yang sama, Anda juga bisa membuka materi belajar mandiri setiap saat.
Latihan disusun agar bermuara pada case study utuh. Anda pulang membawa karya, hasil kerja yang bisa dinilai orang lain.
Bila gaya mengajar tutor terasa kurang pas, kami carikan pengganti yang lebih cocok tanpa biaya tambahan.
Angka yang tampil di halaman ini identik dengan hasil kalkulasi form pendaftaran, sehingga tidak ada biaya tambahan yang muncul belakangan. Ada banyak cara bayarnya: kartu debit maupun kredit, dompet digital, QRIS, Virtual Account, transfer antar-bank, atau setor tunai lewat kasir Alfamart dan Indomaret.
Dari mahasiswa sampai pekerja yang beralih bidang, begini pengalaman mereka belajar UI/UX secara privat di EduPoint.
Rasyid
Mahasiswa Sistem Informasi
Semarang
Case study pertama tuntas dalam 4 bulanSaya dari nol banget, buka Figma saja belum pernah. Tutor sabar sekali dan selalu mulai dari kasus yang dekat dengan keseharian saya. Empat bulan berjalan, case study pertama saya akhirnya jadi dan proses risetnya bisa saya jelaskan dengan percaya diri.
Yunita
Karyawan administrasi
Bekasi
2 studi kasus portofolio sambil tetap bekerjaSebagai admin yang mau pindah ke bidang desain, waktu belajar saya cuma malam hari. Jadwal sesi jam 8 malam sangat membantu, dan rekaman sesinya saya putar ulang di akhir pekan. Sekarang portofolio saya berisi dua studi kasus aplikasi yang saya kerjakan tuntas.
Prasetya
Freelancer desain grafis
Denpasar
Layanan desain aplikasi kini masuk jasa yang ia tawarkanLatar saya desain grafis, jadi bagian visual cepat. Yang benar-benar baru buat saya justru riset pengguna dan usability testing. Tutor mengubah cara saya menilai desain: sekarang saya berangkat dari data pengguna, tidak lagi dari selera sendiri saja.
Ibu Hartini
Orang tua siswa SMK
Yogyakarta
Anak konsisten belajar dengan progres terpantauAnak saya kelas 11 SMK multimedia dan tertarik desain aplikasi. Saya suka karena tiap bulan ada rapor perkembangan di aplikasinya, jadi saya tahu persis apa yang sedang dia pelajari. Anaknya juga makin rajin karena tugasnya berupa proyek, ada hasil yang kelihatan.
Tarif dihitung per sesi mengikuti durasi yang Anda pilih: 60, 90, atau 120 menit. Angka yang tampil di halaman ini sama persis dengan kalkulasi di form pendaftaran, jadi tidak ada selisih saat Anda mendaftar.
Mulai dari
Rp 102.000 / jam
Harga final dihitung saat daftar.
Tarif per jam terhemat, dihitung dari paket 28 sesi per bulan berdurasi 120 menit. Harga per sesi (60, 90, atau 120 menit) tercantum di bagian pilihan format.
Daftar & Hitung HargaBayar fleksibel — QRIS, Virtual Account, Alfamart, Indomaret, transfer & e-wallet.
Tidak ada biaya tersembunyi di sini. Anda bebas menentukan jumlah sesi per bulan, dari 4 sampai 28 kali, dan pembayaran bisa dilakukan lewat QRIS, e-wallet, kartu, transfer bank, Virtual Account, atau Alfamart dan Indomaret sesuai kenyamanan Anda.
Karena berlangsung penuh secara online, program ini menjangkau siswa di mana pun, dengan tutor UI/UX yang bergabung dari 60+ kota di Indonesia. Anda tidak terikat lokasi: yang menentukan kecocokan adalah kebutuhan belajar, jadwal, dan gaya mengajar.
Berikut kumpulan pertanyaan yang paling banyak ditanyakan calon siswa les UI/UX online kepada tim kami, dengan jawaban singkat dan langsung ke intinya.
UX (user experience) adalah keseluruhan pengalaman seseorang saat memakai sebuah produk digital: apakah ia menemukan yang dicari, apakah alurnya masuk akal, apakah ia selesai tanpa frustrasi. UI (user interface) adalah wujud visual yang ia lihat dan sentuh: tombol, warna, tipografi, tata letak.
Cara paling mudah membayangkannya lewat restoran. UX adalah keseluruhan pengalaman makan: kemudahan reservasi, kecepatan pelayanan, kesesuaian menu dengan selera. UI adalah tampilan buku menunya: foto makanan, susunan halaman, keterbacaan huruf. Buku menu yang indah tetap gagal menolong bila pesanan datang salah dan lama.
Di pekerjaan nyata, kedua peran ini sering dipegang satu orang, terutama di tim kecil dan startup. Karena itulah les UI/UX design di EduPoint mengajarkan keduanya sebagai satu rangkaian: riset dan alur (UX) dulu, baru tampilan (UI). Anda belajar memutuskan letak tombol berdasarkan data perilaku pengguna, kemudian membuat tombolnya enak dilihat dan mudah ditekan.
Urutan belajar yang sehat mengikuti alur kerja industri, dan inilah kerangka yang dipakai tutor kami. Tahap pertama: cara berpikir. Pahami user-centered design, belajar merumuskan masalah, dan berlatih wawancara pengguna sederhana. Tahap kedua: struktur. Susun arsitektur informasi dan user flow supaya produk punya kerangka logis. Tahap ketiga: wireframe, menuangkan struktur menjadi kerangka layar tanpa terganggu urusan warna.
Baru pada tahap keempat Anda menyelami UI design di Figma: tipografi, warna, komponen, auto layout. Tahap kelima: prototype dan usability testing, menghidupkan desain lalu mengujinya ke orang sungguhan. Tahap terakhir: merangkum seluruh perjalanan menjadi case study portofolio.
Dengan les privat, roadmap ini dipadatkan atau diperlambat mengikuti kondisi Anda. Siswa dengan latar desain grafis biasanya melompati sebagian materi visual, sedangkan siswa dari latar bisnis justru memperdalam bagian riset.
Figma dipilih sebagai tools utama les UI/UX online ini karena tiga alasan praktis. Pertama, ia berjalan di browser: siswa dengan laptop standar bisa langsung praktik tanpa instalasi berat, dan versi gratisnya mencukupi seluruh materi. Kedua, kolaborasi real-time-nya ideal untuk les online: tutor dan siswa membuka file yang sama, saling menunjuk elemen, dan memberi masukan langsung di kanvas.
Ketiga, Figma adalah perkakas yang paling banyak dipakai tim produk saat ini, sehingga kebiasaan yang Anda bangun di kelas terbawa langsung ke dunia kerja: merapikan penamaan layer, menyusun komponen dengan auto layout, menyiapkan file yang siap dibaca developer.
Meski begitu, tutor kami menegaskan satu hal sejak awal: tools hanyalah alat. Kemampuan yang membuat desainer bernilai adalah cara berpikirnya. Karena itu porsi belajar Figma selalu digandengkan dengan alasan desain di baliknya, dan siswa yang kelak berpindah ke tools lain akan membawa serta cara berpikir yang sama.
Portofolio UI/UX yang meyakinkan berbentuk case study: cerita utuh tentang masalah yang Anda pecahkan, proses yang Anda jalani, dan bukti bahwa solusinya diuji. Kerangkanya sederhana: latar masalah, riset yang dilakukan, alternatif yang ditimbang, desain akhir, hasil usability testing, dan hal yang akan Anda perbaiki berikutnya.
Di program ini, dokumentasi case study dicicil sejak proyek latihan pertama. Setiap sesi meninggalkan jejak: catatan riset, foto sketsa, tangkapan layar wireframe, hasil tes. Menjelang akhir program, bahan-bahan itu tinggal dirangkai menjadi narasi, jadi Anda terhindar dari pekerjaan paling melelahkan: merekonstruksi proses yang sudah lewat dari ingatan.
Tiga jalur ini sama-sama bisa mengantarkan orang menguasai UI/UX, dan masing-masing punya karakter. Belajar otodidak paling murah dan bebas, dengan tantangan terbesar di konsistensi dan ketiadaan orang yang mengoreksi; banyak pemula berputar-putar lama karena tidak tahu bagian mana dari karyanya yang keliru. Bootcamp menawarkan struktur dan komunitas belajar yang ramai, dengan jadwal tetap dan kurikulum yang sama untuk semua peserta di kelasnya.
Les privat mengambil posisi berbeda: kurikulum lentur yang menyesuaikan titik mulai Anda, jadwal yang mengikuti kesibukan, dan seluruh perhatian pengajar tertuju pada karya Anda sendiri. Umpan balik datang cepat dan spesifik, kesalahan terkoreksi sebelum jadi kebiasaan.
Jalur mana yang pas bergantung situasi Anda. Bila Anda punya banyak waktu luang dan disiplin tinggi, otodidak berbekal materi gratis bisa berjalan. Bila Anda butuh suasana angkatan dan tenggat yang ketat, bootcamp menyediakannya.
Artikel pendukung untuk membantu Anda memutuskan dan memaksimalkan hasil belajar.
Tujuh tahap berurutan yang membawa pemula total dari mengenal Figma sampai menyusun satu studi kasus utuh yang berani ditunjukkan saat melamar kerja.
Enam langkah menyusun satu studi kasus yang bercerita, dari memilih proyek yang tepat sampai menerbitkannya di platform yang biasa dicek perekrut produk.
Dua istilah yang sering tertukar sejak hari pertama belajar desain digital, kini dijelaskan lewat contoh sehari-hari, tabel perbandingan, dan langkah mengenalinya.
Lengkapi kemampuan desain produk Anda dengan program les online lain di EduPoint.
Ceritakan titik mulai dan tujuan Anda, tim EduPoint akan mencarikan tutor UI/UX yang paling cocok. Sesi pertama lalu dijadwalkan di slot yang pas dengan pekan Anda.