Membuang napas di dalam air: gelembung dan ritme dua-satu
Hampir semua kepanikan pemula di kolam berawal dari satu kebiasaan darat: menahan napas begitu wajah menyentuh air. Udara yang ditahan membuat dada terasa makin penuh dan sesak, lalu kepala terangkat mendadak mencari udara dan tubuh ikut tenggelam. Karena itu latihan pertama renang adalah membalik kebiasaan tersebut. Udara dibuang perlahan selama wajah berada di air, dan dihirup lewat mulut hanya ketika mulut sudah di atas permukaan.
Latihannya sederhana dan dikerjakan sambil berdiri di air setinggi dada. Pembelajar menarik napas lewat mulut, menunduk sampai wajah tercelup, lalu mengembuskan udara lewat hidung dan mulut sampai muncul gelembung yang stabil. Ritme yang mudah dihafal adalah dua hitungan membuang di dalam air dan satu hitungan menghirup di atas. Sepuluh sampai dua puluh pengulangan per putaran membantu ritme ini pindah dari pikiran ke kebiasaan. Kacamata renang yang pas membuat mata bisa tetap terbuka, dan melihat dasar kolam dengan jelas ikut menurunkan rasa cemas.
Ada dua sandungan yang sering muncul. Yang pertama, air masuk ke hidung karena embusan berhenti terlalu cepat; obatnya, terus buang udara tipis-tipis sampai wajah benar-benar keluar dari air. Yang kedua, pembelajar menghirup terlalu banyak sehingga dada terasa penuh dan kaku. Hirupan sedang sudah cukup, sebab rasa nyaman di air datang dari embusan yang teratur.
Kalau gelembung keluar rata selama wajah di dalam air dan hirupan terasa santai, fondasi napas sudah terpasang dan siap dibawa ke gerakan.