Satu Layar Uji di Flutter, React Native, dan Kotlin
Tabel perbandingan framework jarang memutuskan apa pun, karena Flutter, React Native, dan Kotlin sama-sama tampak meyakinkan di atas kertas. Cara yang lebih jujur adalah membangun aplikasi yang sama tiga kali dalam ukuran sangat kecil: satu layar berisi kolom isian, tombol Tambah, dan daftar yang bertambah setiap kali tombol ditekan. Proyek seukuran itu cukup untuk merasakan bahasa, alat, dan cara tiap framework menyusun tampilan. Waktu sekitar 6 sampai 10 jam per jalur, tersebar dalam 1 sampai 2 minggu, biasanya memadai untuk sampai pada keputusan.
Di Flutter, pembelajar menulis Dart, menyusun widget seperti Column, TextField, dan ListView, lalu merasakan hot reload yang memperbarui layar dalam hitungan detik. Di React Native, pembelajar yang sudah memakai JavaScript langsung mengenali pola komponen dan state dari pengembangan web, dan Expo memudahkan menjalankan proyek di ponsel tanpa pemasangan yang berat. Di Kotlin dengan Jetpack Compose, pembelajar bekerja di Android Studio, menulis fungsi composable, dan mencoba hasilnya di emulator.
Sesudah tiap percobaan, catat tiga hal: bagian mana yang membuat buntu paling lama, seberapa mudah pesan galatnya dipahami, dan apakah ada keinginan melanjutkan proyek itu esok hari. Jawaban atas pertanyaan terakhir sering lebih menentukan daripada angka kinerja. Begitu satu jalur dipilih, dua jalur lainnya disimpan dulu sampai satu aplikasi benar-benar selesai, sebab berpindah framework di tengah jalan menghabiskan berbulan-bulan tanpa karya yang bisa ditunjukkan.
Satu layar yang sama, dibangun di tiga jalur, memberi jawaban yang lebih jelas daripada membaca puluhan perbandingan framework.