Kontur Buta dan Kebiasaan Menggambar Simbol
Hampir setiap pemula membawa satu kebiasaan yang sama ke halaman pertama buku sketsanya: menggambar simbol dari ingatan. Mata digambar sebagai bentuk lonjong dengan titik di tengah, pohon sebagai awan di atas batang, rumah sebagai kotak beratap segitiga. Pendidik seni Betty Edwards menjelaskan bahwa otak cenderung mengambil simbol yang tersimpan ini karena lebih cepat, padahal hasilnya kaku dan jarang menyerupai benda yang ada di depan mata.
Latihan kontur buta dipakai untuk melonggarkan kebiasaan itu. Pembelajar memilih satu benda sederhana, misalnya kunci, daun, atau tangannya sendiri, lalu mengikuti tepinya dengan mata sambil menggerakkan pensil di kertas tanpa melihat hasilnya. Gambarnya hampir pasti berantakan, dan memang itu yang diharapkan. Yang dilatih adalah sambungan antara mata dan tangan, serta keberanian membuat garis tanpa takut salah. Tiga sampai lima menit per sesi sudah cukup.
Sesudah beberapa kali mencoba, pembelajar mulai memperhatikan hal yang dulu terlewat: gagang cangkir lebih tebal di bawah dan menipis di atas, tepi daun bergelombang tidak rata, ruas jari punya lipatan kecil. Pengamatan semacam inilah bahan baku semua gambar sesudahnya. Saat menggambar dengan melihat kertas pun, kebiasaan berhenti sejenak untuk menatap benda tetap dibawa.
Kontur buta melatih mata membaca benda apa adanya, dan hasil yang berantakan adalah tanda latihannya berjalan.