Bunyi huruf dan nama huruf: kenapa be-a sulit menjadi ba
Dalam metode mengeja, anak menghafal nama huruf lebih dulu: be, a, em, es. Saat diminta membaca kata baba, anak menyebut be-a-be-a, lalu harus mengubah empat nama itu menjadi dua suku kata. Langkah terjemahan inilah yang membuat banyak anak berhenti di tengah kata, menatap kartu, lalu menebak. Nama huruf membawa bunyi tambahan: be menyimpan vokal di belakangnya, em menyimpan vokal di depannya, dan bunyi tambahan itu ikut terbawa ketika anak mencoba merangkai.
Metode bunyi, yang di banyak buku disebut fonik, memotong langkah itu. Huruf b diperkenalkan sebagai bunyi /b/ yang pendek, huruf a sebagai /a/, dan ketika keduanya diucapkan berurutan dengan cepat, telinga anak langsung mendengar ba. Bahasa Indonesia cocok untuk cara ini karena ejaannya teratur: huruf yang sama hampir selalu dibaca dengan bunyi yang sama, di awal, tengah, maupun akhir kata. Pengecualiannya sedikit, terutama dua bunyi huruf e serta gabungan seperti ng dan ny, dan masing-masing punya tahap sendiri dalam urutan belajar.
Nama huruf tetap berguna, hanya waktunya belakangan. Anak yang sudah lancar merangkai suku kata bisa mengenal nama huruf sebagai label, misalnya untuk menyebut huruf saat menulis namanya sendiri atau menyanyikan lagu alfabet. Pada tahap awal, pendamping cukup memakai bunyinya, termasuk saat menunjuk huruf di papan nama toko atau bungkus makanan, supaya anak menerima satu sistem yang konsisten.
Di tahap awal setiap huruf diperkenalkan lewat bunyinya; nama huruf menyusul setelah anak lancar merangkai suku kata.