Membaca Peta: Skala, Legenda, Garis Lintang, dan Garis Bujur
Hampir semua materi Geografi berdiri di atas kemampuan membaca peta, dan bagian ini sering dilewati karena dianggap mudah. Ada empat unsur yang perlu dikenali siswa sejak awal. Judul memberi tahu peta itu tentang apa. Legenda menjelaskan arti setiap simbol dan warna, misalnya hijau untuk dataran rendah dan cokelat untuk pegunungan. Mata angin menunjukkan arah. Skala menyatakan perbandingan jarak di peta dengan jarak sebenarnya: skala 1:100.000 berarti 1 cm di peta mewakili 100.000 cm, atau 1 km, di lapangan.
Latihan skala paling berguna dikerjakan dengan penggaris dan atlas. Siswa mengukur jarak dua kota di peta, mengalikan dengan angka skala, lalu mengubah satuan ke kilometer. Kesalahan yang paling sering muncul ada di konversi satuan, jadi biasakan menulis langkahnya satu per satu: cm dikalikan skala, hasilnya dibagi 100.000. Soal kebalikannya juga perlu dicoba, yaitu mencari skala bila jarak peta dan jarak sebenarnya sudah diketahui.
Garis lintang dan garis bujur kerap tertukar. Garis lintang membentang mendatar dan mengukur posisi utara atau selatan dari khatulistiwa. Garis bujur membentang tegak dari kutub ke kutub dan mengukur posisi timur atau barat dari garis 0 derajat di Greenwich. Letak astronomis Indonesia, sekitar 6 derajat LU sampai 11 derajat LS dan 95 sampai 141 derajat BT, menjadi contoh yang enak dipakai karena bisa langsung dicari di atlas. Satu hal lagi yang perlu diketahui: proyeksi peta mengubah ukuran wilayah. Greenland tampak hampir sebesar Afrika di banyak peta dunia, padahal luasnya jauh lebih kecil.
Siswa dianggap sudah bisa membaca peta ketika ia mampu menghitung jarak dari skala dan menyebut letak suatu tempat dengan lintang dan bujurnya tanpa menebak.