Menulis Bebas 15 Menit dan Buku Catatan Ide
Latihan pertama dalam creative writing adalah menulis bebas atau freewriting. Pembelajar memasang timer 15 menit, lalu menulis tanpa berhenti sampai waktu habis. Selama itu tangan terus bergerak, ejaan dibiarkan, dan kalimat yang terasa canggung tetap ditulis. Tujuannya melatih jalur dari pikiran ke halaman sehingga gagasan mengalir lebih lancar. Jam yang sama setiap hari membantu latihan ini berubah menjadi kebiasaan, sebab pikiran mulai mengenali waktu itu sebagai waktu menulis.
Kesulitan yang paling sering muncul ada di menit ketiga atau keempat, saat kepala terasa kosong. Pada titik itu pembelajar boleh menulis ulang kalimat terakhirnya, mendeskripsikan benda di depan mata, atau menjawab satu pertanyaan pemantik seperti "kapan terakhir saya merasa malu?". Pemantik semacam ini menjaga pena tetap bergerak sampai gagasan baru muncul. Sebulan latihan 15 menit sehari menghasilkan sekitar tiga puluh sesi bahan mentah, dan dari tumpukan itu sering lahir bibit cerita yang tak terduga.
Pasangannya adalah buku catatan ide, entah buku kecil atau catatan di ponsel. Isinya potongan percakapan yang terdengar di angkot, benda lama dengan riwayat yang menarik, pertanyaan "bagaimana jika", dan perasaan yang sedang kuat. Setiap entri cukup satu atau dua kalimat. Kebiasaan ini sudah tertanam ketika pembelajar bisa duduk dan mulai menulis dalam satu menit tanpa menunggu suasana hati, dan buku catatannya bertambah setiap minggu.
Halaman kosong terasa lebih ringan setelah pembelajar terbiasa mengisinya 15 menit setiap hari, apa pun mutu tulisannya.