Bunyi dh, th, dan Huruf a yang Dibaca Seperti o
Bahasa Jawa punya dua pasang bunyi yang tidak dikenal bahasa Indonesia. Huruf d dan t diucapkan dengan ujung lidah menempel di belakang gigi atas, sedangkan dh dan th diucapkan dengan ujung lidah sedikit ditekuk ke langit-langit mulut. Bedanya kecil di telinga pemula, padahal maknanya bisa berubah. Wedi berarti takut, wedhi berarti pasir. Kata seperti bathuk (dahi) dan kathah (banyak, ragam krama) juga baru terdengar wajar kalau th-nya diucapkan dengan lidah yang ditekuk.
Hal kedua yang sering membingungkan adalah huruf a di suku kata terbuka. Dalam logat Solo dan Yogyakarta, kata lara (sakit) dibaca mendekati loro, sega (nasi) dibaca mendekati sego, dan Jawa sendiri terdengar seperti Jowo. Ejaan Latin resmi tetap menulisnya dengan a. Pembelajar yang membaca persis seperti tulisannya akan terdengar kaku, sementara yang menulis seperti ucapannya akan keliru di atas kertas.
Cara melatihnya paling mudah lewat pasangan kata. Pembelajar mengucapkan wedi dan wedhi bergantian, merekam suaranya, lalu membandingkannya dengan rekaman penutur asli. Untuk huruf a, latihannya membaca daftar kata pendek dua kali: sekali sesuai ejaan, sekali sesuai ucapan sehari-hari. Kemampuan ini sudah terpasang ketika pembelajar bisa membaca kalimat pendek keras-keras tanpa berhenti memikirkan setiap d, dh, t, dan th.
Latih pasangan wedi dan wedhi sampai lidah membedakannya sendiri, lalu biasakan membaca a sebagai bunyi o di tempat penutur asli melakukannya.