Satu siswa satu tutor, belajar bahasa Jawa dari percakapan ngoko sehari-hari, unggah-ungguh krama yang sopan, sampai membaca aksara Jawa. Diajar penutur asli yang tumbuh dengan bahasanya, di rumah maupun online.





Les bahasa Jawa adalah bimbingan privat satu lawan satu untuk belajar bahasa Jawa, dari percakapan ngoko sehari-hari sampai krama yang halus dan membaca aksara Jawa. Pembelajaran disesuaikan tujuan masing-masing siswa: bisa ngobrol dengan kakek-nenek, akrab dengan keluarga besar pasangan, mengikuti pelajaran muatan lokal di sekolah, atau mendalami sastra dan budaya Jawa. Tutor adalah penutur asli yang datang ke rumah atau mengajar online, dengan biaya mulai Rp 80.000 per sesi.
Apa pun formatnya, kurikulumnya sama-sama mengantar Anda dari ngoko sehari-hari sampai krama yang sopan.
Tutor datang ke rumah, latihan berbicara langsung dengan koreksi pelafalan dan logat.
Belajar via Zoom dengan materi digital, cocok untuk perantau dan diaspora di mana saja.
Belajar bersama keluarga atau 2-3 teman, lebih seru untuk latihan percakapan.
Empat tahap bertingkat, dari ngoko percakapan sampai sastra dan aksara Jawa.
Mengenal kosakata ngoko sehari-hari, sapaan, dan kalimat sederhana. Dalam beberapa sesi Anda sudah bisa mengobrol santai dalam bahasa Jawa.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Belajar tingkat tutur krama untuk berbicara sopan kepada yang lebih tua. Tahap penting agar bahasa Jawa Anda terasa santun dan tepat konteks.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Menguasai aksara Jawa (Hanacaraka), dari 20 aksara dasar sampai sandhangan dan pasangan, lalu membaca teks pendek beraksara Jawa.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Mendalami sastra dan budaya Jawa: tembang, geguritan, paribasan, sesorah (pidato), serta filosofi di balik cerita wayang.
Mata Pelajaran:
Fokus Belajar:
Empat pilar utama yang dibangun bertahap dan seimbang.
Tutor menyesuaikan penekanan dengan tujuan Anda. Yang ingin akrab dengan keluarga fokus ke percakapan dan unggah-ungguh, pelajar sekolah menambah aksara Jawa, pegiat budaya mendalami sastra.
Kosakata dan kalimat ngoko untuk mengobrol santai dalam situasi sehari-hari.
Empat tingkat tutur bahasa Jawa dan cara memilihnya sesuai lawan bicara.
Membaca dan menulis aksara Jawa, dari aksara dasar sampai sandhangan dan pasangan.
Tembang, paribasan, sesorah, dan filosofi Jawa yang memperkaya kemampuan berbahasa.
Anak dan cucu yang ingin bisa berbahasa Jawa dengan kakek-nenek dan menjaga akar keluarga, termasuk yang lahir dan besar di luar Jawa.
Rekomendasi:
Mereka yang menikah ke keluarga Jawa dan ingin akrab dengan keluarga besar serta memahami tata krama agar terasa diterima.
Rekomendasi:
Siswa SD sampai SMA di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta yang belajar Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal.
Rekomendasi:
Peneliti, seniman, perantau, dan siapa pun yang ingin mendalami sastra, wayang, dan filosofi Jawa lewat bahasanya.
Rekomendasi:
Bahasa Jawa memilih tingkat tutur sesuai dengan siapa kita berbicara. Satu kalimat yang sama berubah bentuk saat ditujukan ke teman, ke orang yang baru dikenal, atau ke yang lebih tua. Inilah unggah-ungguh, jantung tata krama bahasa Jawa.
Akrab dan setara
“Kowe wis mangan?”
Tingkat paling santai, dipakai dalam suasana akrab dan setara tanpa jarak.
Pergeseran kata: kamu: kowe · sudah: wis · makan: mangan
Akrab tapi menghormati
“Kowe wis dhahar?”
Tetap akrab, tapi kata untuk lawan bicara dihaluskan sebagai tanda hormat. Sering dipakai antar orang dekat yang saling menghargai.
Pergeseran kata: makan: mangan jadi dhahar (kata halus untuk lawan bicara)
Sopan untuk umum
“Sampeyan sampun nedha?”
Tingkat sopan yang lebih netral, dipakai kepada orang yang belum akrab atau dalam situasi umum.
Pergeseran kata: kamu: sampeyan · sudah: sampun · makan: nedha
Paling halus dan hormat
“Panjenengan sampun dhahar?”
Tingkat paling halus, dipakai kepada orang yang sangat dihormati. Inilah bahasa untuk menyapa orang tua, guru, dan tamu terhormat.
Pergeseran kata: kamu: panjenengan · sudah: sampun · makan: dhahar
Makin halus, makin hormat
Memilih tingkat tutur yang tepat adalah inti kesantunan dalam budaya Jawa. Memakai ngoko kepada orang yang seharusnya disapa dengan krama bisa terdengar kurang hormat, meski tidak disengaja. Sebaliknya, krama yang tepat membuat lawan bicara merasa dihargai. Bagian ini sulit dikuasai lewat aplikasi karena bergantung pada konteks dan rasa bahasa. Di sinilah tutor penutur asli sangat membantu, lewat latihan percakapan dan roleplay situasi nyata sampai pilihan kata terasa otomatis.
Intip cara membaca dan menulis aksara Jawa, langkah demi langkah, seperti yang dipakai tutor di kelas.
20 aksara nglegena (aksara dasar, bunyi vokal bawaan 'a')
Aksara dasar + sandhangan (penanda vokal) jadi suku kata baru
Coba baca kalimat sederhana ini
Aku tuku sega ing pasar.
Pertanyaan: Apa tegese ukara iki? (Apa arti kalimat ini?)
Jawaban: Saya membeli nasi di pasar.
Aksara Jawa terlihat rumit dari jauh, tapi dibangun dari 20 aksara dasar yang bisa dipelajari bertahap. Begitu polanya dipahami, membaca kata sederhana menjadi terasa logis.
Hambatan yang paling sering kami temui, dan cara tutor mengatasinya bersama siswa.
Kenapa terjadi
Pelajar menghafal kosakata terpisah tanpa tahu kata itu masuk tingkat tutur yang mana, sehingga ngoko dan krama tercampur tanpa sadar.
Cara kami mengatasinya
Tutor melatih satu situasi memakai satu tingkat tutur secara konsisten lewat percakapan nyata, sampai pilihan kata terasa otomatis.
Kenapa terjadi
Bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan bahasa, jadi kebiasaan berbahasa setara terbawa dan bisa terdengar kurang sopan dalam bahasa Jawa.
Cara kami mengatasinya
Lewat roleplay menyapa nenek, guru, lalu teman, siswa terbiasa langsung memilih krama atau ngoko sesuai lawan bicara.
Kenapa terjadi
Satu aksara dasar bisa berubah bunyi vokalnya tergantung sandhangan, dan banyak pelajar mencoba menghafal semuanya sekaligus.
Cara kami mengatasinya
Kami mulai dari 20 aksara nglegena dulu sampai lancar, baru menambahkan sandhangan satu per satu secara bertahap.
Kenapa terjadi
Bunyi-bunyi ini tidak ada padanannya di bahasa Indonesia, sehingga sering disamakan dengan d, t, atau a biasa.
Cara kami mengatasinya
Tutor mencontohkan dan mengoreksi pelafalan langsung di setiap sesi, bagian yang sulit didapat dari belajar otodidak.
Tutor yang tumbuh dengan bahasa Jawa mendampingi satu lawan satu, dari ngoko percakapan, unggah-ungguh krama, sampai aksara Jawa.
Anda menentukan tempo. Latihan ngoko dan krama sepuasnya tanpa malu, melaju cepat tanpa menunggu kelas.
Tutor yang tumbuh dengan bahasa Jawa, sehingga pelafalan dan rasa bahasanya otentik, tumbuh dari pemakaian sehari-hari.
Anda diajari kapan memakai ngoko dan kapan krama, bagian tersulit yang menentukan kesopanan berbahasa Jawa.
Dari percakapan sampai membaca dan menulis Hanacaraka, lengkap dalam satu jalur belajar yang runtut.
Biaya jelas dari awal, mulai per sesi tanpa keharusan paket panjang di muka.
Tutor datang ke rumah atau mengajar online dengan jadwal yang menyesuaikan kesibukan Anda.
Tutor kami adalah lulusan Sastra Daerah, Bahasa Daerah, dan Sastra Indonesia dari kampus di Jawa, serta penutur asli yang tumbuh dengan bahasa Jawa sejak kecil.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Negeri Semarang
Unggah-ungguh sejak dini“Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang yang mengenalkan tingkat tutur lewat percakapan sehari-hari, supaya siswa terbiasa memilih ngoko atau krama secara wajar.”

Pendidikan Bahasa Jawa, Universitas Negeri Yogyakarta
Krama untuk situasi nyata“Berlatar Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta, Musa banyak memakai roleplay situasi keluarga agar krama terasa hidup dan langsung bisa dipakai.”

Pendidikan Bahasa Jawa, Universitas Negeri Yogyakarta
Percakapan ngoko yang cair“Veve mengajak siswa langsung mengobrol ngoko dari sesi pertama, karena menurutnya bahasa Jawa paling cepat melekat ketika sering dipakai bicara.”

Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Negeri Surabaya
Aksara Jawa bertahap“Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Surabaya ini mengajar Hanacaraka selangkah demi selangkah, dari aksara nglegena dulu sampai sandhangan.”

Pendidikan Bahasa Daerah (Jawa), Universitas Negeri Yogyakarta
Pendamping pelajar sekolah“Dita terbiasa mendampingi siswa muatan lokal Bahasa Jawa, menyelaraskan latihan dengan materi sekolah agar pemahaman dan nilai tumbuh bersama.”

Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Negeri Surabaya
Sastra dan tembang Jawa“Dari studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa di Universitas Negeri Surabaya, Rara mengenalkan paribasan dan tembang sebagai jalan masuk memahami nilai-nilai Jawa.”
Pengalaman jujur siswa EduPoint, mulai cucu yang ingin bicara dengan eyang sampai menantu yang ingin diterima keluarga.
Anak saya lahir di Jakarta dan tidak bisa bahasa Jawa, padahal eyangnya di Solo. Sekarang dia sudah bisa menyapa pakai krama dan eyangnya terharu sekali. Tutornya sabar mulai dari nol.
Ibu Diah A.
Orang tua siswa • Jakarta
Saya menantu orang Jawa dan dulu cuma bisa senyum saat keluarga besar ngobrol. Setelah les fokus krama dan unggah-ungguh, saya mulai paham dan bisa membalas dengan sopan. Rasanya jauh lebih diterima.
Ibu Yayu K.
Menantu keluarga Jawa • Semarang
Saya perantau yang lama tinggal di luar Jawa dan bahasa Jawa saya hilang. Les online ini mengembalikan kemampuan ngoko saya, bahkan sekarang lebih percaya diri pakai krama ke orang tua. Sesinya bisa direkam jadi mudah diulang.
Pak Agus W.
Perantau, belajar daring • Surabaya
Anak saya kelas 8 dan nilai muatan lokal Bahasa Jawanya sempat jeblok, terutama aksara Jawa. Tutornya mengajar aksara dengan bertahap dan sekarang dia sudah bisa membaca. Nilainya naik banyak.
Ibu Budi S.
Orang tua siswa SMP • Jogja
Saya tertarik budaya Jawa dan ingin paham tembang serta paribasan. Tutornya mengajarkan bahasanya sekaligus filosofi di baliknya. Belajar jadi terasa dalam dan bermakna.
Shantika B.
Mahasiswa pegiat budaya • Solo
Pindah tugas ke Yogyakarta membuat saya ingin menghormati budaya setempat. Belajar krama dasar membuat interaksi sehari-hari dengan tetangga jauh lebih hangat. Tutornya menyesuaikan dengan situasi kantor dan lingkungan saya.
Putri N.
Profesional pindah ke Jawa • Magelang
Saya suka wayang tapi sering tidak paham dialognya. Lewat les ini saya belajar kosakata dan ungkapan Jawa yang sering muncul. Sekarang menonton wayang jadi jauh lebih nikmat karena mengerti maksudnya.
Karina R.
Penggemar budaya Jawa • Surabaya
Awalnya saya ikut karena ingin bisa ngobrol santai dengan teman-teman di Malang. Tutornya mengajar ngoko lewat obrolan sehari-hari yang asyik. Dalam beberapa bulan saya sudah berani ikut nimbrung.
Rasya I.
Mahasiswa pendatang • Malang
Harga transparan tanpa biaya tersembunyi. Pilih paket sesuai kebutuhan.
Jaminan ganti tutor gratis jika belum cocok di 2 sesi pertama.Cocok untuk mengenal tutor dan memulai percakapan ngoko.
Rp 85.000/sesi • 4x pertemuan
Berlaku 1 bulan
Pilihan paling populer untuk belajar konsisten tiap minggu.
Rp 80.000/sesi • 8x pertemuan
Berlaku 2 bulan
Untuk mendalami krama, aksara Jawa, sampai sastra.
Rp 75.000/sesi • 16x pertemuan
Berlaku 4 bulan
Harga dapat menyesuaikan tujuan belajar, lokasi, dan format les. Hubungi kami untuk penawaran pasti.
Les bahasa Jawa online tersedia untuk perantau dan diaspora di seluruh Indonesia maupun di luar negeri.
Les bahasa Jawa tatap muka, tutor datang ke rumah di kota-kota berikut.
Cerita perkembangan nyata dari siswa EduPoint.
Tantangan
Audrey lahir dan besar di Jakarta tanpa pernah memakai bahasa Jawa, padahal ingin bisa mengobrol dengan eyangnya di Yogyakarta.
Tutor:
Tantangan
Benedikta menikah ke keluarga Jawa dan merasa canggung karena tidak paham krama saat berkumpul dengan keluarga besar.
Tutor:
Tantangan
Hanun kesulitan pada mata pelajaran Bahasa Jawa di sekolah, terutama membaca aksara Jawa yang membuat nilainya turun.
Tutor:
Pertanyaan yang paling sering muncul sebelum mulai belajar, kami jawab apa adanya.
Program lain yang mungkin sesuai untuk Anda
Konsultasi gratis untuk menentukan tujuan, mencocokkan tutor penutur asli, dan menyusun jadwal dari ngoko sampai krama dan aksara Jawa.