Menempatkan Variabel di Skala Nominal, Ordinal, Interval, dan Rasio
Hampir semua keputusan di statistika berawal dari satu pertanyaan: variabel ini diukur dengan skala apa? Stevens membagi tingkat pengukuran menjadi empat. Skala nominal berisi kategori tanpa urutan, seperti jenis kelamin, daerah asal, atau program studi. Skala ordinal berisi kategori berurutan, seperti tingkat kepuasan rendah, sedang, dan tinggi. Skala interval berisi angka dengan jarak setara tanpa titik nol mutlak, misalnya suhu dalam Celsius. Skala rasio punya titik nol yang bermakna, seperti berat badan, penghasilan, atau lama belajar dalam menit.
Kesulitan paling sering muncul pada data kuesioner. Satu butir Likert dengan pilihan 1 sampai 5 secara teknis bersifat ordinal, karena jarak antara pilihan setuju dan sangat setuju belum tentu sama dengan jarak antara netral dan setuju. Banyak penelitian menjumlahkan beberapa butir menjadi skor total lalu memperlakukannya sebagai data numerik. Keputusan itu perlu dicatat dan dibicarakan dengan pembimbing, sebab ia menentukan apakah analisis berikutnya memakai rata-rata atau peringkat. Untuk skor gabungan, uji validitas butir dan reliabilitas, misalnya koefisien Cronbach's alpha, biasanya dijalankan lebih dulu.
Untuk tahap pengukuran, alat latih paling ampuh berupa tabel dua kolom: nama variabel di kiri, skalanya di kanan, ditambah alasan satu kalimat. Ambil kuesioner apa saja, dari survei kepuasan kantin sampai instrumen penelitian sendiri, lalu isi tabel itu tanpa membuka catatan. Tahap skala data dianggap tuntas begitu pembelajar mampu menjelaskan kenapa nomor induk mahasiswa termasuk data nominal walaupun ditulis dengan angka.
Skala pengukuran ditentukan oleh sifat data yang diukur, dan skala itulah yang menyaring ringkasan serta uji yang sah dipakai.