Tiga lapis kausal pada Perang Diponegoro 1825-1830
Sebuah peristiwa sejarah paling mudah dipahami saat pembelajar memisahkan tiga lapis penyebabnya. Lapis pertama adalah sebab jangka panjang, berupa kondisi yang mengendap bertahun-tahun. Lapis kedua adalah pemicu, biasanya satu kejadian tunggal yang menyalakan keadaan. Lapis ketiga adalah akibat, yang bisa dibagi lagi menjadi akibat langsung dan akibat yang baru terasa belakangan. Panduan berpikir sejarah dari The Historical Association menekankan pemisahan ini karena siswa cenderung berhenti pada satu sebab tunggal, padahal peristiwa besar hampir selalu digerakkan beberapa faktor sekaligus.
Perang Diponegoro memberi contoh yang rapi. Sebab jangka panjangnya meliputi sistem sewa tanah dan pajak yang memberatkan rakyat serta campur tangan pemerintah kolonial dalam urusan keraton Yogyakarta. Pemicunya adalah pemasangan patok jalan yang melintasi tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Akibatnya adalah perang lima tahun yang menguras kas kolonial, yang kemudian ikut melatarbelakangi kebijakan tanam paksa sejak 1830. Dengan cara ini satu bab tersambung ke bab berikutnya.
Latihannya memakai tiga warna spidol, satu untuk tiap lapis, untuk menandai ringkasan bab. Sesudah itu buku ditutup dan rantainya disusun ulang di selembar kartu. Kemampuan ini sudah terbentuk ketika pembelajar bisa menjawab mengapa perang itu meletus pada 1825 dengan menyebut kondisi dan pemicunya secara terpisah.
Untuk setiap peristiwa besar, tulis minimal dua sebab jangka panjang, satu pemicu, dan satu akibat sebelum menghafal tahunnya.