Grogi di Tubuh Anak: Jantung Berdebar, Suara Mengecil, Pipi Memerah
Rasa takut bicara di depan orang punya nama, glossophobia, dan banyak orang dewasa pun mengalaminya. Pada anak, rasa itu muncul lewat tubuh lebih dulu: jantung berdebar, telapak tangan basah, pipi memerah, suara yang tiba-tiba mengecil, atau kaki yang ingin mundur ke belakang orang dewasa terdekat. Di usia sekolah dasar anak mulai sadar bahwa teman sekelas memperhatikan dan menilai dirinya, dan kesadaran baru inilah yang membuat tatapan satu kelas terasa berat.
Kesulitannya, anak kecil belum punya kata untuk perasaan itu. Ia hanya tahu ada yang tidak enak di perutnya, lalu memilih diam. Karena itu latihan pertama dalam public speaking anak adalah mengenali rasa gugup. Anak diajak menyebutnya dengan bahasa sederhana, misalnya perutku seperti ada kupu-kupu atau jantungku sedang lari, lalu belajar bahwa rasa itu datang dan pergi. Menggambar wajah gugup dan wajah tenang di kertas, atau memberi angka satu sampai lima untuk besar kecilnya grogi sebelum dan sesudah tampil, membantu anak melihat rasa itu sebagai sesuatu yang bisa ia ukur dan ia kendalikan.
Sebagian anak memang bertemperamen hati-hati dan butuh waktu lebih lama untuk merasa aman di situasi baru. Ciri ini sehat dan tidak perlu dihapus. Yang dilatih adalah kemampuan tetap tampil sambil membawa sedikit gugup. Tandanya mulai terbentuk saat anak bisa berkata aku deg-degan, lalu tetap maju dan menyelesaikan kalimat pembukanya.
Grogi yang sudah diberi nama terasa lebih ringan, dan anak lebih mudah menghadapinya dengan napas serta kalimat pembuka yang sudah dilatih.