Empat Pilar Berpikir Komputasional pada Soal Aplikasi Kasir
Berpikir komputasional dirumuskan Jeannette Wing dari Carnegie Mellon University sebagai cara merumuskan masalah sehingga solusinya bisa dikerjakan oleh sebuah pemroses informasi. Empat pilarnya adalah dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan penyusunan algoritma. Di Indonesia, Informatika masuk sebagai mata pelajaran wajib SMP dalam Kurikulum Merdeka, sehingga banyak siswa sudah bertemu istilah ini sebelum menulis kode pertamanya.
Soal aplikasi kasir memperlihatkan keempatnya bekerja bersama. Dekomposisi memecah aplikasi menjadi tiga tugas: mencatat harga barang, menghitung total, dan mencetak struk. Pengenalan pola melihat bahwa potongan 10 persen dan 20 persen memakai rumus yang sama, cukup angkanya yang berganti. Abstraksi menyaring detail yang tidak memengaruhi hitungan, misalnya warna kemasan atau nama kasir yang bertugas. Penyusunan algoritma lalu merangkai sisa langkahnya menjadi urutan yang selalu memberi hasil sama bila diberi masukan yang sama.
Pilar-pilar ini bisa dilatih tanpa komputer. Pembelajar menulis langkah membuat teh sedetail resep, lalu memeriksa apakah ada langkah yang diam-diam dianggap sudah jelas, misalnya kapan air dianggap mendidih. Soal tantangan Bebras berguna di tahap ini karena menguji pola dan urutan lewat cerita berang-berang, peta, atau tumpukan kotak, tanpa satu baris sintaks pun. Pembelajar dewasa yang merasa kurang berbakat logika sering mendapati bahwa yang kurang selama ini hanya kebiasaan menuliskan langkah secara lengkap.
Kalau langkah sebuah tugas sudah bisa ditulis lengkap dalam kalimat biasa, menerjemahkannya ke kode tinggal urusan bahasa.