Lima Sila Pancasila dan Lambangnya di Perisai Garuda
Pancasila adalah titik masuk seluruh pelajaran PPKn, dan cara mempelajarinya menentukan seberapa ringan bab-bab berikutnya. Siswa SD biasanya mengenal sila lewat lambang di perisai Garuda: bintang untuk Ketuhanan Yang Maha Esa, rantai untuk Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, pohon beringin untuk Persatuan Indonesia, kepala banteng untuk sila keempat tentang kerakyatan, serta padi dan kapas untuk Keadilan Sosial. Bulu Garuda juga menyimpan tanggal proklamasi: 17 helai di tiap sayap, 8 di ekor, 19 di pangkal ekor, dan 45 di leher.
Sesudah lambang, pembelajar naik ke makna. Sila pertama berbicara tentang menghormati keyakinan orang lain dan memberi ruang beribadah. Sila kedua tentang memperlakukan sesama secara adil. Sila ketiga tentang mendahulukan persatuan saat kepentingan kelompok berbenturan. Sila keempat tentang musyawarah dan menerima keputusan bersama. Sila kelima tentang hasil yang dirasakan merata, termasuk sikap tidak boros dan menghargai kerja orang lain.
Di tahap sila, alat bantu yang paling terasa manfaatnya berupa tabel tiga kolom: nama sila, nilai inti dalam satu kalimat, dan dua contoh perilaku dari lingkungan pembelajar sendiri. Contoh dari kelas, organisasi kampus, atau rapat RT jauh lebih mudah diingat daripada contoh dari buku, dan contoh semacam inilah yang muncul kembali dalam bentuk soal cerita. Untuk SMA dan mahasiswa, tambahkan satu kolom lagi berisi lawan dari nilai itu, misalnya diskriminasi untuk sila kedua atau sikap mementingkan suku sendiri untuk sila ketiga.
Sila yang sudah punya dua contoh perilaku nyata akan dikenali dengan cepat saat soal menyajikannya dalam bentuk cerita.