Tes Diagnostik Mundur Dua sampai Tiga Jenjang
Matematika tersusun seperti anak tangga. Persamaan kuadrat di SMA bertumpu pada faktorisasi di SMP, faktorisasi bertumpu pada perkalian dan operasi bilangan negatif, dan semuanya bertumpu pada pecahan yang dipelajari di SD. Karena itu, siswa yang tersendat di satu bab sering kali sedang menanggung lubang dari dua atau tiga jenjang di bawahnya. Mengulang bab yang sedang dipelajari berkali-kali jarang menolong, sebab pijakannya sendiri yang belum kokoh.
Cara menemukannya adalah tes diagnostik mundur. Siapkan sekitar 10 soal campuran dari materi dua sampai tiga tingkat di bawah kelas sekarang: operasi pecahan, bilangan bulat negatif, perkalian dua digit, perbandingan, dan persamaan linear sederhana. Kerjakan tanpa kalkulator dan tanpa batas waktu ketat. Soal yang salah ditelusuri lagi ke materi yang lebih dasar sampai ketemu topik terakhir yang benar-benar dikuasai. Titik itulah tempat belajar dimulai.
Setelah titik awal ditemukan, satu topik dipelajari sampai pembelajar bisa menjawab benar 8 dari 10 soal sebelum naik. Prinsip ini berasal dari riset mastery learning Benjamin Bloom: prasyarat yang dituntaskan lebih dulu membuat topik berikutnya jauh lebih ringan. Untuk fondasi yang berlubang cukup dalam, rentang 8 sampai 12 minggu latihan rutin adalah gambaran wajar, dan kecepatan tiap orang berbeda.
Tanda diagnosis sudah benar cukup jelas: soal di jenjang sekarang mulai terasa masuk akal karena langkah-langkahnya bisa ditelusuri ke konsep yang sudah dikenal. Kalau soal masih terasa asing, biasanya ada satu lubang lagi di bawahnya yang perlu dicari.
Mulailah dari topik terakhir yang benar-benar dikuasai, lalu naik satu tingkat setiap kali 8 dari 10 soal terjawab benar.