Titik Belah Ketupat dan Kaidah Khaá¹á¹ MansÅ«b
Sekitar seribu tahun lalu, Ibnu Muqlah, wazir Dinasti Abbasiyah, merumuskan khaá¹á¹ mansÅ«b, sistem proporsi yang menjadikan titik belah ketupat sebagai satuan ukur kaligrafi Arab. Titik itu adalah bekas sekali tekan ujung kalam yang dipegang miring, sehingga besarnya selalu mengikuti lebar kalam yang dipakai. Kalam lebar menghasilkan titik besar dan huruf yang tinggi, kalam sempit menghasilkan titik kecil dan huruf yang pendek, sementara perbandingan di antara huruf tetap sama. Karena itu satu lembar contoh bisa ditiru dengan alat berukuran berbeda, dan hasilnya tetap seimbang.
Dalam khat Naskhi, alif setinggi lima titik yang ditumpuk tegak, dan ukuran ini menjadi rujukan seluruh huruf lain. Panjang badan ba yang mendatar, dalamnya lengkung nun, dan besarnya kepala ain semuanya bisa dinyatakan dalam hitungan titik terhadap alif tersebut. Di Tsuluts, alif bisa mencapai tujuh titik, sehingga huruf-hurufnya tampak lebih jangkung dan megah. Pembelajar yang memahami hal ini mulai melihat setiap gaya khat sebagai susunan perbandingan, dan perbandingan bisa diperiksa dengan mata sendiri.
Latihannya sederhana dan pas sebagai pemanasan. Di awal tiap sesi, pembelajar membuat sederet titik dengan sudut kalam yang sama, lalu menumpuk lima titik di tepi kertas sebagai penggaris tegak. Dengan pensil, tinggi alif dan batas atas huruf ditandai sebelum tinta menyentuh kertas. Tanda bahwa tahap ini sudah masuk: titik-titik dalam satu deret terlihat sama besar, sudutnya seragam, dan pembelajar bisa menebak tinggi alif tanpa menumpuk titik dulu, lalu tebakan itu ternyata tepat ketika dicek.
Semua proporsi Naskhi berangkat dari lima titik setinggi alif, jadi deret titik yang seragam adalah pemanasan terbaik di awal setiap latihan.