Enam Senar E-A-D-G-B-E dan Kebiasaan Menyetem Sebelum Bermain
Saat gitar dipangku, senar paling tebal berada paling atas dan disebut senar keenam, nadanya E rendah. Dari sana urutannya turun ke senar kelima A, senar keempat D, senar ketiga G, senar kedua B, lalu senar pertama yang paling tipis kembali ke E, kali ini E tinggi. Urutan E-A-D-G-B-E inilah setelan standar yang dipakai hampir semua lagu pemula, dan patokan nadanya mengacu pada A 440 Hz, nada acuan standar internasional ISO 16. Kayu dan senar terus bergeser karena suhu, kelembapan, dan tarikan, jadi setelan kemarin belum tentu masih tepat hari ini.
Alat paling ramah untuk pemula adalah tuner clip-on yang dijepit di kepala gitar. Ia membaca getaran langsung dari kayu, sehingga tetap akurat walaupun ruangan sedang ramai. Aplikasi tuner di ponsel bisa jadi cadangan selama ruangannya cukup hening untuk mikrofon. Pastikan tuner berada di mode chromatic (biasanya bertanda C), petik senar dengan tenaga sedang, lalu putar peg sedikit demi sedikit. Seperempat putaran sudah mengubah nada cukup jauh. Usahakan nada target dicapai dari arah bawah: kalau nadanya terlewat tinggi, kendurkan dulu senarnya lalu naikkan lagi pelan-pelan, karena senar yang dinaikkan mengunci lebih stabil. Mengencangkan jauh melewati target berisiko memutus senar.
Satu senar yang disetem ikut menggeser tegangan leher gitar, sehingga senar lain yang tadi sudah pas bisa bergeser lagi. Karena itu keenam senar dicek ulang dua sampai tiga putaran, terutama pada senar baru yang masih meregang selama beberapa hari pertama. Setelah nyaman dengan tuner, telinga bisa mulai dilatih lewat metode fret 5: senar keenam ditekan di fret kelima lalu disamakan dengan senar kelima yang dipetik terbuka, begitu seterusnya untuk pasangan berikutnya. Satu pengecualian perlu dihafal, pasangan senar ketiga ke kedua memakai fret keempat.
Gitar yang dicek di awal setiap latihan membuat telinga terbiasa dengan nada yang tepat sejak kunci pertama.