Kelangkaan dan Biaya Peluang dari Uang Saku Sendiri
Seluruh ilmu ekonomi berangkat dari satu kenyataan: kebutuhan manusia beragam dan terus bertambah, sementara alat pemuasnya terbatas. Karena itu setiap orang harus memilih, dan setiap pilihan meninggalkan sesuatu. Nilai pilihan terbaik yang dilepas disebut biaya peluang. Pada Kurikulum Merdeka, gagasan ini dibuka di kelas 10 Fase E dengan tema manusia dan upaya pemenuhan kebutuhan, dan bab-bab sesudahnya memakai logika yang sama.
Kesulitannya justru muncul karena konsep ini terdengar terlalu sederhana. Siswa hafal definisinya, lalu keliru ketika soal meminta biaya peluang dari dua pilihan yang nilainya berupa waktu atau tenaga. Bahan latihan paling dekat adalah keputusan sendiri. Uang saku seratus ribu rupiah bisa dipakai untuk buku atau kuota internet, dan memilih buku berarti melepas kuota. Tulis tiga keputusan harian dalam tabel kecil, lalu catat apa yang dikorbankan di tiap keputusan, termasuk waktu belajar atau waktu istirahat.
Dari tabel itu pembelajar melangkah ke pembagian kebutuhan pokok, sekunder, dan tersier, serta ke kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi yang sudah dikenal sejak IPS SMP. Tanda konsep ini sudah terpasang: pembelajar bisa menunjuk biaya peluang dari keputusan apa pun yang diceritakan soal, termasuk keputusan sebuah pabrik yang memilih memproduksi satu barang atau keputusan pemerintah yang memilih satu proyek, tanpa membuka catatan.
Setiap pilihan dibayar dengan pilihan lain. Kebiasaan menyebut apa yang dilepas adalah fondasi semua bab ekonomi sesudahnya.