Lima Tanda Aksen: é, è, ê, ë, dan ç di Atas Huruf Latin
Bahasa Prancis memakai 26 huruf Latin yang sama dengan bahasa Indonesia, lalu menambahkan lima tanda aksen yang menempel di atas atau di bawah huruf. Accent aigu hanya muncul di atas e (é). Accent grave muncul pada è, à, dan ù. Accent circonflexe bisa duduk di atas kelima vokal (â, ê, î, ô, û). Tréma memisahkan dua vokal yang berdampingan supaya dibaca terpisah, seperti pada Noël. Cédille membuat c berbunyi s di depan a, o, dan u, seperti pada garçon dan français. Bagi pembelajar Indonesia, aksen inilah petunjuk pertama cara membaca sebuah kata.
Tiga bunyi e perlu dipisahkan sejak awal. E polos di akhir suku kata, seperti pada le dan je, terdengar lemah dan pendek. É pada café dan été terdengar tertutup dengan sudut bibir agak ditarik. È pada mère dan père terdengar lebih terbuka, dan ê pada fête dibaca mirip è. Sebagian aksen membedakan makna tanpa mengubah bunyi: a berarti mempunyai sementara à berarti di atau ke, ou berarti atau sementara où berarti di mana.
Latihan yang paling berguna adalah membaca daftar kata keras-keras sambil menunjuk aksennya, misalnya le dan les, été dan fête, ou dan où. Saat menulis, aksen ikut ditulis karena kata tanpa aksen dihitung sebagai kesalahan ejaan dalam tugas menulis. Di papan ketik ponsel, aksen muncul dengan menahan huruf dasarnya, jadi pembelajar bisa membiasakannya sejak pesan pertama yang ia tulis dalam bahasa Prancis.
Pembelajar siap melangkah saat bisa membaca é, è, dan e polos dengan tiga bunyi berbeda tanpa berhenti untuk menebak.