Tiga Unsur Vokal Hangul: Titik, Garis Datar, Garis Tegak
Sepuluh vokal dasar Hangul dibangun dari tiga unsur: titik yang melambangkan langit, garis datar untuk bumi, dan garis tegak untuk manusia. Dalam tulisan modern titik itu digambar sebagai garis pendek yang menempel pada garis utama. Vokal bergaris tegak ㅏ (a) dan ㅓ (eo) dibedakan oleh arah garis pendeknya ke kanan atau ke kiri, sedangkan ㅣ (i) berdiri sebagai garis tegak polos. Vokal bergaris datar ㅗ (o) dan ㅜ (u) dibedakan oleh posisi garis pendek di atas atau di bawah, sedangkan ㅡ (eu) berupa garis datar polos. Menambah satu garis pendek lagi menghasilkan bunyi berawalan y: ㅑ (ya), ㅕ (yeo), ㅛ (yo), dan ㅠ (yu).
Pasangan yang paling sering tertukar bagi pembelajar berbahasa Indonesia adalah ㅓ dengan ㅗ, serta ㅡ dengan ㅜ. Bunyi eo diucapkan dengan mulut agak terbuka dan bibir santai, sedangkan o membulatkan bibir. Bunyi eu mirip e pepet yang ditarik ke belakang dengan bibir tetap datar, sedangkan u memajukan bibir. Percakapan sehari-hari dalam bahasa Indonesia jarang menuntut pembedaan setajam ini, sehingga telinga perlu dilatih secara khusus.
Latihan yang terbukti praktis: tulis vokal bergaris tegak dan bergaris datar dalam dua kolom, lalu ucapkan pasangan mirip berdampingan sambil bercermin untuk memeriksa bentuk bibir. Setelah sepuluh vokal dasar mapan, vokal gabungan seperti ㅐ, ㅔ, ㅘ, dan ㅝ dipelajari sebagai susunan dari vokal yang sudah dikenal. ㅘ, misalnya, adalah ㅗ yang meluncur ke ㅏ sehingga terdengar wa. Dalam ucapan Seoul masa kini, ㅐ dan ㅔ terdengar nyaris sama, jadi pembedaannya lebih penting saat menulis dan mengeja.
Vokal sudah mapan ketika ㅓ, ㅗ, ㅡ, dan ㅜ yang ditunjuk secara acak bisa diucapkan tanpa ragu dan tanpa melirik romanisasi.