Bunyi w, z, ei, ie, ch dan Umlaut ä, ö, ü yang Membedakan Ejaan Jerman
Bahasa Jerman memakai huruf Latin yang sama dengan bahasa Indonesia, dan justru di situlah jebakannya: lidah otomatis membaca dengan kebiasaan lama. Dalam bahasa Jerman, w dibaca seperti v (Wasser terdengar vaser), v pada banyak kata dibaca f (Vater terdengar fater), z dibaca ts (Zeit terdengar tsait), dan j dibaca seperti y. Gabungan ei selalu dibaca ai, sedangkan ie dibaca ii panjang, sehingga Wein dan Wien terdengar sangat berbeda.
Ada dua bunyi ch. Sesudah a, o, u, dan au, ch terdengar kasar di pangkal tenggorokan, seperti pada Buch. Sesudah e, i, dan konsonan, ch menjadi hembusan halus di langit-langit, seperti pada ich dan Milch. Di awal kata, sp dan st dibaca schp dan scht (sprechen, Straße), dan di akhir kata b, d, serta g kehilangan getarnya: Hund terdengar hunt.
Titik di atas vokal mengubah arti: schon berarti sudah, schön berarti indah. Bunyi ä mirip e pada kata bebek. Untuk ö, pembelajar mengucapkan e panjang lalu membulatkan bibir tanpa menggeser lidah; untuk ü, i panjang dengan bibir dibulatkan. Huruf ß dibaca s tegas dan muncul sesudah vokal panjang (Straße, groß), sedangkan sesudah vokal pendek bunyi yang sama ditulis ss (Wasser).
Latihannya berupa daftar pasangan kata yang berbeda satu bunyi, dibaca keras di depan cermin sambil direkam, lalu dibandingkan dengan audio penutur asli. Bunyi yang meleset ditandai untuk diulang esok harinya.
Kemampuan ini menetap ketika pembelajar bisa membaca kata Jerman yang belum pernah ia lihat, dan pendengar bisa membedakan schon dari schön hanya dari suaranya.