Tren Les Calistung dan PAUD 2026
Indeks permintaan belajar dini, pergeseran usia mulai les, dan wajah kesiapan sekolah anak Indonesia.
Indeks permintaan belajar dini, pergeseran usia mulai les, dan wajah kesiapan sekolah anak Indonesia.
Permintaan les jenjang dini pada 2026 berpusat pada kesiapan masuk sekolah dasar dan calistung dasar, dengan usia mulai belajar yang bergeser lebih awal ke masa pra-sekolah. Belajar anak hampir seluruhnya tatap muka. Laporan ini memetakan tren tersebut lewat data terindeks dan statistik resmi.
Belajar dini menempati simpul awal dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Sebelum bangku sekolah dasar dimulai, keluarga Indonesia menimbang bagaimana membekali anak dengan pengenalan huruf, angka, dan kebiasaan belajar. Laporan ini memotret tren tersebut pada paruh pertama 2026 melalui dua lajur data: analisis internal terindeks dan statistik resmi yang dikutip langsung dari lembaga pemerintah.
Pada sisi permintaan, les jenjang dini berporos pada dua tujuan yang saling menyambung: kesiapan masuk sekolah dasar dan penguasaan calistung dasar. Membaca lancar, berhitung dini, dan pengenalan bahasa menyusul sebagai kebutuhan turunannya. Peta ini memperlihatkan bahwa keluarga memandang tahun-tahun pra-sekolah sebagai fondasi yang menentukan kelancaran jenjang berikutnya.
Usia mulai belajar bergerak lebih awal. Porsi anak pra-sekolah, di bawah usia enam tahun, menjadi bagian yang nyata dari permintaan belajar dini. Cara belajarnya hampir seluruhnya tatap muka, karena anak usia dini menuntut pendampingan langsung, sentuhan konkret, dan ritme yang sabar. Kelas daring menempati porsi kecil pada rentang usia ini.
Seluruh angka internal disajikan terindeks demi menjaga kerahasiaan, sementara klaim faktual disandarkan pada sumber resmi seperti Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pendidikan. Latar kebijakan turut bergeser: fokus nasional berpindah dari tes calistung menuju enam kemampuan fondasi anak. Laporan ini adalah potret satu periode; edisi berikutnya akan memperluas rentang waktu agar tren jangka panjang terbaca lebih utuh.
Belajar dini menempati tahun-tahun pra-sekolah dan kelas awal, masa ketika anak mengenal huruf, angka, dan kebiasaan belajar yang menopang jenjang berikutnya.
Perjalanan pendidikan seorang anak dimulai jauh sebelum ia menyandang seragam sekolah dasar. Pada rentang usia tiga hingga enam tahun, anak mengenal huruf dan angka, melatih motorik menulis, serta membangun rasa ingin tahu yang akan menemaninya bertahun-tahun. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menempatkan tahap ini dalam kerangka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang bertujuan membantu pertumbuhan jasmani dan rohani anak agar siap memasuki pendidikan lebih lanjut.
Di ranah pendampingan belajar, tahap dini memiliki wajahnya sendiri. Les calistung dan les kesiapan sekolah hadir menemani anak mengenal simbol huruf, menghitung benda, dan terbiasa duduk memusatkan perhatian. Bentuknya lembut, penuh permainan, dan bertumpu pada kesabaran, karena anak usia dini belajar melalui pengalaman konkret dan pengulangan yang menyenangkan.
Laporan ini memetakan tren les calistung dan PAUD pada awal 2026: seberapa besar permintaan belajar dini, pada usia berapa keluarga mulai mendampingi, materi apa yang paling dicari, bagaimana anak belajar, dan siapa para pendampingnya. Tujuannya membangun rujukan data yang jujur tentang segmen pendidikan yang paling awal, sekaligus paling menentukan arah belajar anak.
Cakupan laporan adalah permintaan belajar dini di seluruh Indonesia, dengan fokus pada jenjang pra-sekolah dan kelas awal sekolah dasar. Konteks kebijakan dan partisipasi PAUD nasional disertakan sebagai latar. Setiap angka internal disajikan terindeks, menggambarkan struktur dan arah permintaan tanpa membuka jumlah mutlak, sementara fakta eksternal dikutip dari sumber resmi dan ditandai jelas.
Kebijakan nasional mengakhiri tes calistung sebagai syarat masuk sekolah dasar dan mengarahkan pembelajaran dini pada enam kemampuan fondasi yang holistik.
Makna kesiapan sekolah sedang ditata ulang oleh kebijakan nasional. Pada 2023, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan Merdeka Belajar Episode ke-24 bertajuk Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Kebijakan ini menegaskan bahwa penerimaan murid baru di sekolah dasar dilarang mensyaratkan tes baca, tulis, dan hitung.
Larangan tes calistung sesungguhnya berakar panjang. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pada Pasal 69 ayat (5), sudah menyatakan bahwa penerimaan peserta didik kelas satu sekolah dasar tidak boleh mendasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kebijakan 2023 menegaskan kembali aturan yang selama ini kerap terabaikan di lapangan.
Pergeseran ini mengubah cara keluarga memaknai persiapan sekolah. Fokusnya bergerak dari sekadar mengejar kelancaran membaca dini menuju kesiapan yang lebih utuh: anak yang nyaman bersosialisasi, mampu mengelola emosi, dan memandang belajar sebagai pengalaman menyenangkan. Les calistung yang baik menyesuaikan diri dengan arah ini, menautkan pengenalan huruf dan angka pada permainan dan kegiatan yang bermakna.
Sumber: Kemendikbudristek, Merdeka Belajar Episode ke-24 (2023); Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010, Pasal 69 ayat (5).
Baru sekitar sepertiga anak usia 3–6 tahun mengikuti PAUD menurut angka partisipasi kasar, sebuah ruang tumbuh lebar yang menopang permintaan belajar dini.
Akses ke pendidikan anak usia dini masih menyisakan pekerjaan besar. Badan Pusat Statistik mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD untuk anak usia 3–6 tahun berada di kisaran 36 persen pada 2024, artinya baru sekitar sepertiga anak pada rentang usia itu yang mengikuti layanan PAUD formal maupun nonformal.
Data pokok pendidikan bahkan mencatat dinamika yang perlu dicermati. Jumlah peserta didik PAUD menurun sekitar 203 ribu anak pada 2024, diiringi berkurangnya tenaga pengajar PAUD, meski jumlah satuan pendidikan bertambah. Kondisi ini menandakan tantangan pemerataan dan keberlanjutan layanan, sekaligus menegaskan bahwa kebutuhan pendampingan belajar dini belum sepenuhnya terpenuhi jalur formal.
| Indikator | Nilai / arah |
|---|---|
| APK PAUD usia 3–6 tahun (2024) | ± 36% |
| Perubahan peserta didik PAUD (2024) | turun ± 203 ribu anak |
| Target anak masuk PAUD (2029) | ± 9,6 juta anak |
Pemerintah menempatkan penguatan PAUD sebagai agenda strategis, dengan sasaran memperluas jangkauan anak yang masuk PAUD pada akhir dekade. Ruang tumbuh yang lebar inilah yang menopang permintaan belajar dini di jalur pendampingan: ketika layanan formal belum menjangkau semua anak, keluarga mencari cara lain untuk membekali anaknya sejak awal.
Sumber: BPS, Angka Partisipasi Kasar PAUD 2024; BPS, Wajah Pendidikan Indonesia (2024); Kemendikdasmen, Statistik PAUD 2024/2025; analisis internal EduPoint (terindeks).
Kurikulum nasional untuk jenjang dini menekankan kemampuan fondasi dan kesiapan belajar, membingkai peran les calistung sebagai pendamping yang menyenangkan.
Les calistung yang baik berpijak pada kurikulum yang berlaku di jenjang dini. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional untuk jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan menengah. Untuk anak usia dini, kurikulum ini menekankan capaian pembelajaran yang berpusat pada nilai agama dan moral, jati diri, serta dasar literasi, matematika, sains, teknologi, seni, dan rekayasa.
Penekanan pada kemampuan fondasi ini menyelaraskan tujuan sekolah, keluarga, dan pendamping belajar. Ketika kurikulum mengarahkan pada literasi dan numerasi dasar yang dibangun secara bertahap, les calistung menemukan perannya sebagai jembatan: menerjemahkan capaian kurikulum ke dalam tempo dan gaya belajar tiap anak, dengan pengulangan yang sabar dan permainan yang menautkan simbol pada makna.
Kesiapan sekolah pun dipahami lebih luas dari kelancaran membaca. Anak yang siap adalah anak yang mengenal dirinya, mampu berinteraksi, dan memandang belajar sebagai kegiatan yang menggembirakan. Les kesiapan sekolah yang selaras kurikulum menempatkan keterampilan calistung di dalam kerangka kesiapan yang menyeluruh ini.
Sumber: Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah; analisis internal EduPoint (terindeks).
Permintaan les jenjang dini berpusat pada kesiapan masuk sekolah dasar dan calistung dasar, dengan membaca dan berhitung dini menyusul rapat di belakangnya.
Permintaan belajar dini memiliki pusat gravitasi yang jelas. Kesiapan masuk sekolah dasar menempati indeks permintaan tertinggi, mencerminkan kegelisahan keluarga menjelang transisi anak ke bangku formal. Calistung dasar mengikuti rapat di belakangnya, sebagai keterampilan yang paling langsung dirasa menentukan kelancaran awal sekolah.
Indeks permintaan relatif, tujuan pemuncak = 100. Angka mutlak tidak ditampilkan; kategori dengan sampel kecil disembunyikan demi keterwakilan.
Membaca lancar dan berhitung dini menyusul sebagai kebutuhan turunan yang saling menyambung. Keduanya adalah keterampilan yang paling kasat mata bagi orang tua: anak yang sudah bisa membaca dan menghitung dianggap lebih percaya diri saat memasuki kelas awal. Bahasa Inggris untuk anak dan mengaji melengkapi ragam permintaan, menandakan keluarga membekali anak dengan lebih dari satu jenis fondasi.
Permintaan ditampilkan sebagai indeks relatif antar-tujuan belajar, memperlihatkan urutan kebutuhan tanpa membuka volume mentah. Setiap tujuan ditelaah lebih jauh pada bab-bab berikutnya, mulai dari usia mulai belajar hingga ragam materi yang menyertainya.
Sumber: Analisis internal EduPoint (terindeks), permintaan les jenjang dini Februari–Juni 2026.
Usia mulai les bergeser lebih awal, dengan anak pra-sekolah di bawah usia enam tahun menempati bagian yang nyata dari permintaan belajar dini.
Kapan seorang anak mulai didampingi belajar? Peta permintaan belajar dini memperlihatkan pergeseran ke usia yang lebih awal. Kelompok usia lima hingga enam tahun, tepat di ambang masuk sekolah dasar, menempati bagian terbesar permintaan, disusul kelompok yang baru saja duduk di kelas awal.
Pangsa relatif antar-kelompok usia (persen). Berbasis komposisi permintaan internal Februari–Juni 2026; angka mutlak tidak ditampilkan.
Yang menonjol adalah porsi anak pra-sekolah. Kelompok usia empat hingga lima tahun, bahkan tiga hingga empat tahun, bersama-sama menempati hampir sepertiga permintaan belajar dini. Ini menandakan keluarga mulai mendampingi anak jauh sebelum bangku sekolah dasar, memandang tahun-tahun paling awal sebagai periode penting pembentukan kebiasaan belajar.
Pergeseran ini perlu dibaca dengan hati-hati. Belajar dini yang sehat menjaga irama bermain dan istirahat anak; pendampingan pada usia sangat muda mengutamakan pengenalan yang menyenangkan, bukan latihan yang membebani. Data ini menggambarkan minat keluarga yang tumbuh, dan mengingatkan pentingnya pendekatan yang sesuai tahap perkembangan.
Sumber: Analisis internal EduPoint (terindeks), permintaan les jenjang dini Februari–Juni 2026.
Calistung terpadu memimpin ragam materi belajar dini, dengan membaca dan numerasi dini menempati permintaan tertinggi berikutnya.
Di dalam les jenjang dini, materi yang paling dicari mengikuti alur alami penguasaan literasi dan numerasi. Paket calistung terpadu, yang merangkai baca, tulis, dan hitung dalam satu pendampingan, menempati permintaan tertinggi. Keluarga menyukai pendekatan terpadu ini karena ketiga keterampilan itu saling menopang.
Indeks relatif antar-materi, tertinggi = 100. Label yang serumpun digabung; angka mutlak tidak ditampilkan.
Membaca dini menempati posisi tinggi berikutnya, disusul berhitung dan menulis. Urutan ini masuk akal: membaca membuka pintu ke semua mata pelajaran, berhitung membangun logika awal, dan menulis melatih motorik halus yang menopang keduanya. Bahasa Inggris anak dan mengaji hadir sebagai fondasi tambahan yang banyak dipilih keluarga sejak dini.
Ragam materi ditampilkan sebagai indeks relatif, memperlihatkan komposisi kebutuhan tanpa membuka volume mentah. Keragaman ini menegaskan bahwa belajar dini melayani lebih dari satu tujuan: menyiapkan literasi, menumbuhkan numerasi, dan membangun kebiasaan belajar yang menyenangkan.
Sumber: Analisis internal EduPoint (terindeks), permintaan les jenjang dini Februari–Juni 2026.
Belajar anak usia dini hampir seluruhnya tatap muka, sejalan dengan kebutuhan pendampingan langsung dan sentuhan konkret pada usia ini.
Cara belajar anak usia dini condong kuat pada pertemuan langsung. Sebagian besar permintaan memilih format tatap muka, karena anak pada usia ini belajar melalui sentuhan konkret, gerak, dan tanggapan langsung dari pendamping yang berada di sisinya.
Pangsa relatif antar-mode (persen). Berbasis komposisi permintaan internal Februari–Juni 2026.
Porsi tatap muka pada belajar dini lebih tebal dibanding jenjang yang lebih tinggi. Anak usia dini membutuhkan pendamping yang dapat memegang pensil bersamanya, menata balok angka, dan membaca ekspresi wajahnya untuk menyesuaikan tempo. Kelas daring menempati porsi kecil, umumnya sebagai penunjang bagi keluarga yang jauh dari pendamping berkualitas.
Ruang tumbuh belajar daring untuk anak tetap ada, ditopang penetrasi internet nasional yang telah melampaui tiga perempat penduduk menurut survei APJII 2024. Namun untuk usia dini, keseimbangannya berbeda dari jenjang lebih tinggi: tatap muka menjadi tulang punggung, dan daring hadir melengkapi di celah geografis.
Sumber: Analisis internal EduPoint (terindeks); APJII, Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024.
Capaian literasi dan numerasi Indonesia yang masih tertinggal menegaskan pentingnya fondasi dini yang kuat, sekaligus mengingatkan agar calistung tidak berubah menjadi tekanan.
Mengapa fondasi dini begitu penting? Jawabannya tampak pada capaian belajar nasional di jenjang yang lebih tinggi. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan skor membaca, matematika, dan sains Indonesia jauh di bawah rata-rata negara OECD, dengan sebagian besar siswa belum mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi.
| Domain | Indonesia | Rata-rata OECD |
|---|---|---|
| Membaca | 359 | 476 |
| Matematika | 366 | 472 |
| Sains | 383 | 485 |
Kesenjangan pada literasi dan numerasi ini berakar jauh ke belakang, hingga tahun-tahun paling awal. Anak yang membangun fondasi baca dan hitung secara kokoh sejak dini memiliki bekal yang lebih kuat menghadapi jenjang berikutnya. Di sinilah les calistung dan les kesiapan sekolah menemukan makna terdalamnya: menutup celah fondasi sebelum ia melebar.
Keseimbangan menjadi kata kunci. Kebijakan nasional yang mengarahkan pada kemampuan fondasi holistik dan capaian belajar yang masih perlu diperkuat bertemu pada satu titik: anak Indonesia membutuhkan fondasi dini yang kuat, ditumbuhkan dengan cara yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangannya.
Sumber: OECD, PISA 2022 Results (Indonesia); Pusmendik Kemendikbudristek; analisis internal EduPoint (terindeks).
Pendamping belajar dini berlatar kampus keguruan, dengan pendidikan guru sekolah dasar dan pendidikan guru PAUD paling banyak terwakili.
Siapa yang mendampingi anak belajar pada tahap paling awal? Latar pendidikan pendamping belajar dini didominasi kampus keguruan yang memang menyiapkan tenaga pengajar anak. Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tampil paling banyak terwakili, diikuti Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD).
Indeks relatif, latar pemuncak = 100. Angka mutlak tidak ditampilkan.
Dominasi latar keguruan anak membawa arti penting. Pendamping berlatar PGSD dan PGPAUD memiliki bekal pemahaman tahap perkembangan anak, cara membangun minat belajar, dan teknik mengajar yang sesuai usia dini. Latar psikologi dan pendidikan bahasa memperkaya keragaman pendekatan, dari pengelolaan emosi anak hingga pengenalan bahasa.
Mutu tetap beragam antarindividu, sehingga proses seleksi dan pembinaan pendamping menjadi penentu kualitas layanan. Keterwakilan latar keguruan anak memberi titik awal yang baik, sepanjang disertai pembinaan berkelanjutan yang menjaga pendekatan tetap menyenangkan.
Sumber: Analisis internal EduPoint (terindeks); PDDikti, Statistik Pendidikan Tinggi 2025.
Aspirasi keluarga yang ingin mengantar anak lebih jauh, di tengah beban biaya pendidikan yang menanjak, menggerakkan investasi belajar sejak tahun-tahun paling awal.
Keputusan mendampingi anak belajar sejak dini berakar pada aspirasi keluarga. Badan Pusat Statistik mencatat Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas sebesar 8,85 tahun pada 2024, setara kelas awal sekolah menengah pertama, sementara Harapan Lama Sekolah anak usia 7 tahun mencapai 13,21 tahun, setara jenjang menengah atas hingga diploma awal.
| Indikator | Nilai 2024 |
|---|---|
| Rata-rata Lama Sekolah (25+ th) | 8,85 tahun (≈ SMP) |
| Harapan Lama Sekolah (anak 7 th) | 13,21 tahun (≈ SMA/D1) |
| Indeks Pembangunan Manusia | 75,02 |
Selisih antara capaian generasi orang tua dan harapan bagi generasi anak adalah mesin aspirasi keluarga. Orang tua yang berikhtiar mengantar anaknya lebih jauh cenderung memulai lebih awal, dan tahun-tahun pra-sekolah menjadi titik pertama investasi belajar itu. Pengenalan calistung yang menyenangkan dipandang sebagai langkah awal menuju perjalanan panjang.
Beban biaya pendidikan yang menanjak turut menajamkan perhitungan keluarga. Pengeluaran pendidikan rumah tangga meningkat tajam seiring jenjang menurut Susenas MSBP 2024, dengan jenjang sekolah dasar sekitar Rp4,6 juta per tahun. Membangun fondasi belajar yang kuat sejak dini terasa sebagai persiapan yang rasional menghadapi biaya jenjang berikutnya.
Sumber: BPS, Indeks Pembangunan Manusia 2024; BPS, Statistik Penunjang Pendidikan (Susenas MSBP) 2024; analisis internal EduPoint (terindeks).
Permintaan belajar dini paling tebal di koridor Jawa dan kawasan metropolitan, sementara wilayah berkembang menuntut penjangkauan yang berbeda.
Peta permintaan belajar dini mengikuti sebaran penduduk dan kematangan layanan pendidikan. Koridor Jawa dan kawasan metropolitan Jabodetabek menempati indeks permintaan tertinggi, sejalan dengan kepadatan keluarga muda dan ketersediaan pendamping berkualitas.
Indeks relatif antar-wilayah, tertinggi = 100. Angka mutlak tidak ditampilkan; wilayah dengan sampel kecil disembunyikan demi keterwakilan.
Konsentrasi ini sejalan dengan sebaran pusat pendidikan tinggi yang memasok pendamping berlatar keguruan anak, terutama di koridor Jawa. Kawasan metropolitan menampilkan permintaan yang padat dan terdiferensiasi, dari kesiapan sekolah hingga bahasa dan mengaji dini, sejalan dengan aspirasi keluarga perkotaan.
Di wilayah berkembang, kebutuhan belajar dini nyata, sementara kedalaman pasokan pendamping lokal masih tumbuh. Di sinilah kelas daring dan penjangkauan kampus regional berperan sebagai jembatan, memperpendek jarak antara keluarga dan pendamping berkualitas, sepanjang infrastruktur digital menjangkau.
Sumber: Analisis internal EduPoint (terindeks); PDDikti & BPS, Statistik Pendidikan Tinggi 2025.
Temuan laporan mengarahkan langkah bagi keluarga, penyedia layanan, dan pemangku kebijakan seputar belajar dini yang sehat dan merata.
Belajar dini akan makin dipandang sebagai fondasi utuh, dengan calistung yang menyenangkan di dalamnya, sembari menanti rentang data yang lebih panjang.
Tiga arah tampak menguat. Pertama, kesiapan sekolah akan makin dipahami secara utuh, memadukan calistung dengan kematangan sosial dan emosi anak. Kedua, usia mulai belajar cenderung bertahan pada rentang pra-sekolah, sehingga pendekatan yang sesuai tahap perkembangan menjadi makin penting. Ketiga, penguatan PAUD nasional akan memperluas basis anak yang membangun fondasi sejak dini.
Laporan ini adalah potret satu periode, sehingga arahnya bersifat indikatif. Edisi berikutnya akan memperluas rentang waktu agar musiman penuh dan perubahan antar-tahun terbaca, menjadi fondasi bagi indeks belajar dini yang lebih kaya dari tahun ke tahun.
Laporan ini memadukan dua lajur data. Lajur internal berasal dari platform EduPoint dan disajikan dalam bentuk terindeks (indeks, peringkat, atau pangsa), tanpa angka mutlak. Lajur eksternal berasal dari sumber resmi dan dikutip langsung. Pemisahan ini menjaga kerahasiaan sekaligus kredibilitas.
Data permintaan internal mencakup periode Februari–Juni 2026. Karena rentang ini pendek, laporan disusun sebagai potret keadaan terkini belajar dini, bukan analisis tren tahun-ke-tahun. Klaim arah kebijakan bersandar pada dokumen resmi nasional.
Permintaan belajar dini dihitung dari permintaan pendampingan untuk anak jenjang PAUD dan kelas awal sekolah dasar, mencakup kesiapan sekolah, calistung, membaca, berhitung, menulis, bahasa anak, dan mengaji. Label yang serumpun digabung menjadi satu kategori.
Seluruh besaran internal diubah menjadi indeks, peringkat, atau pangsa relatif. Tidak ada jumlah mutlak, tarif rupiah, atau metrik bisnis yang ditampilkan. Tujuannya menyajikan struktur dan arah permintaan tanpa membuka data operasional.
Indeks keterwakilan latar pendidikan dan sebaran wilayah dibaca berdampingan dengan sebaran mahasiswa dan pusat pendidikan tinggi nasional (PDDikti/BPS) agar mencerminkan struktur yang sesungguhnya, bukan distorsi sampel.
Sel data dengan sampel kecil disembunyikan untuk menjaga keterwakilan dan privasi. Pembacaan difokuskan pada kategori dan wilayah dengan dukungan data memadai.
Sebagai potret satu periode, laporan ini belum menangkap musiman penuh maupun perubahan antar-tahun pada permintaan belajar dini. Indeks pergeseran usia bersifat komposisi snapshot, bukan laju perubahan yang terukur lintas tahun. Edisi berikutnya akan memperkaya rentang waktu sehingga tren jangka panjang dapat dibaca.
Lampiran A
Rangkuman seluruh indeks yang dipakai dalam laporan ini. Semua nilai bersifat relatif (terindeks) dan tidak mewakili jumlah mutlak.
| Tujuan belajar | Indeks |
|---|---|
| Kesiapan masuk SD | 100 |
| Calistung dasar | 88 |
| Membaca lancar | 74 |
| Berhitung / numerasi dini | 66 |
| Bahasa Inggris anak | 52 |
| Mengaji anak (iqra) | 47 |
| Kelompok usia | Pangsa |
|---|---|
| Usia 5–6 tahun | ≈38% |
| Usia 6–7 tahun | ≈33% |
| Usia 4–5 tahun | ≈18% |
| Usia 3–4 tahun | ≈11% |
| Mode | Pangsa |
|---|---|
| Tatap muka | ≈84% |
| Online | ≈10% |
| Lokasi bersama | ≈6% |
Lampiran B
Adhel Pradita Sugito, & Tim Riset Edupoint. (2026). Tren Les Calistung dan PAUD 2026: Indeks Permintaan Belajar Dini. Riset Pendidikan EduPoint. EduPoint Indonesia. https://edupoint.id/id/riset/laporan/tren-calistung-paud-2026
@techreport{edupoint-tren-calistung-paud-2026-2026,
title = {Tren Les Calistung dan PAUD 2026: Indeks Permintaan Belajar Dini},
author = {Adhel Pradita Sugito and Tim Riset Edupoint},
institution = {EduPoint Indonesia},
type = {Riset Pendidikan EduPoint},
year = {2026},
url = {https://edupoint.id/id/riset/laporan/tren-calistung-paud-2026},
}EduPoint menghubungkan keluarga dengan pendamping belajar dini berkualitas di seluruh Indonesia, untuk calistung, kesiapan sekolah, dan fondasi belajar yang menyenangkan.
Cari Pendamping Belajar Dini