Purposeful Practice: Cara Latihan Yang Efektif dan Berdampak

Sudah sering latihan tapi belum terasa kemajuan? Coba terapkan Purposeful Practice.

Share: 

Daftar Isi

Pernahkah kamu berlatih dalam jangka panjang tapi belum melihat hasilnya? Atau berkali-kali ikut kursus, pelatihan, dan pengembangan keahlian tapi belum merasakan perubahan yang signifikan dalam diri.

Bisa jadi bukan karena intensitas latihannya yang kurang, juga bukan karena sarana latihannya yang kurang tepat. Biasanya ini terjadi karena latihan kita belum terstruktur, belum menerapkan metode yang tepat, dan tidak memiliki tujuan yang jelas.

Cara latihan yang buruk adalah hal yang biasa terjadi. Dalam olah raga, sering kali seseorang membuat cedera dirinya karena cara latihan yang salah. Begitu juga ketika kita belajar suatu hal tanpa rencana dan metode yang benar, kadang bukan pengembangan diri yang didapat, tetapi penyimpangan dan kemunduran.

Maka dalam berlatih, kita perlu menerapkan strategi latihan yang benar dengan cara yang paling efektif dan produktif, salah satu cara latihan terbaik adalah dengan menerapkan purposeful practice.

Apa yang dimaksud Purposeful Practice?

Dalam buku “Peak” karya K. Anders Ericsson dan Robert Pool, dijelaskan bahwa Purposeful Practice adalah latihan yang memiliki tujuan yang spesifik, fokus, memperoleh feedback melalui pemantauan kemajuan, dirancang gradual dengan tujuan meningkatkan kemampuan, dengan mendorong diri untuk berlatih pada intensitas yang melampaui zona nyaman, berlatih pada sesuatu yang lebih dari kemampuan saat ini yang akan terasa sulit dan menantang.

Ericson merangkum purposeful practice dengan artian: “Keluarlah dari zona nyamanmu tetapi lakukan dengan cara yang terfokus, dengan tujuan yang jelas, rencana untuk mencapai tujuan tersebut, dan cara untuk memantau kemajuanmu.”

Contoh Purposeful Practice

Contoh purposeful practice: Berbicara dengan klien 7x per minggu, mengerjakan soal Matematika dari soal termudah ke tersulit secara gradual 2x per hari. Pastikan juga tujuan tersebut diatas kemampuanmu. Misalkan saat ini kemampuanmu adalah berbicara dengan klien 3-4x per minggu. Pastikan juga kamu fokus dalam mengerjakannya, dan mengukur prosesnya, bisa melalui journaling atau melalui evaluasi diri. Tentunya ini berbeda dengan tujuan ingin menjadi ahli komunikasi yang baik, atau ingin pintar matematika saja, lalu dilanjutkan dengan latihan yang tidak terstruktur, tidak fokus, dan tidak ada assesment setelahnya.

Cara Menerapkan Purposeful Practice

Latihan dan mengembangkan diri adalah hal yang menantang, selain faktor dari diri sendiri, faktor lingkungan pun berpengaruh, baik dari teman, keluarga, anggota kerja, ataupun suasana. Agar sukses dalam menerapkan purposeful practice, berikut ini beberapa hal yang perlu diterapkan.

1. Tinggalkan Fixed Mindset, Terapkan Growth Mindset

Fixed mindset (Pola pikir tetap) adalah keyakinan bahwa kecerdasan, bakat, dan kualitas seseorang adalah bawaan sejak lahir dan tidak dapat diubah. Orang dengan fixed mindset, ketika ia tidak pandai dalam sesuatu, biasanya ia berpikir bahwa ia tidak akan pernah pandai dalam hal itu. Sebaliknya, growth mindset (mindset berkembang) artinya keyakinan bahwa kecerdasan dan bakat dapat dikembangkan dengan latihan dan usaha.

Pola pikir kamu memainkan peran utama dalam motivasi, ketahanan, dan pencapaianmu. Oleh karena itu, agar sukses dalam purposeful practice, maka kamu perlu menerapkan growth mindset.

2. Bangun Tujuan yang Jelas dan Spesifik

Membangun tujuan yang jelas dan spesifik bisa dengan menerapkan SMART Goals. SMART adalah singkatan dari Specific (spesifik), Measurable (terukur), Achievable (dapat dicapai), Relevant (relevan), dan Time-Bound (dibatasi waktu).

SMART Goals akan membantumu memastikan bahwa tujuan kamu dapat dicapai dalam jangka waktu tertentu. Pendekatan SMART ini menghilangkan kebiasaan tebak-tebakan hasil akhir, menetapkan garis waktu yang jelas, dan memudahkan untuk melacak kemajuan dan mengidentifikasi pencapaian yang sudah terealisasikan.

Contoh tujuan SMART bisa dengan pernyataan seperti ini: Tujuan saya adalah [tujuan terukur] dalam [kerangka waktu atau tenggat waktu]. Saya akan mencapai tujuan ini dengan [langkah apa yang akan kamu ambil untuk mencapai tujuan]. Mencapai tujuan ini akan menghasilkan [hasil atau manfaat].

3. Dorong Dirimu Keluar Batas Nyamanmu

Agar ada perkembangan pada sesi latihan, coba dorong dirimu untuk berlatih lebih dari batas kemampuanmu saat ini. Jadi, pastikan SMART Goal mendefinisikan sesuatu yang diatas batas kemampuanmu. Seandainya dalam proses pelaksanaannya terasa mudah, maka kamu perlu menambah lagi intensitasnya beberapa level. Hanya saja pastikan jangan sampai melukai diri atau mencederai diri. Mendorong dirimu keluar batas nyaman semacam kamu mampu mengangkat beban 15 kg, coba tambah jadi 17 kg, sehingga ini akan terasa sedikit lebih berat dan jadi meningkatkan dirimu. Tapi jangan langsung mengangkat 25 kg yang pada akhirnya bisa membuat terluka atau cedera.

4. Disiplin Dalam Berlatih

Disiplin diri adalah jembatan antara tujuan yang ditetapkan dan tujuan yang dicapai. Terapkan disiplin diri dengan cara menerapkan kebiasaan dan rutin yang terencana dan dikerjakan dengan penuh ketekunan.

Disiplin ini perlu latihan, tidak ada orang yang terlahir disiplin. Disiplin menjadi salah satu keahlian yang perlu kamu kembangkan melalui latihan dan repetisi. Bahkan sepertinya, selain latihan untuk mencapai tujuan tertentu, rencanakan juga untuk latihan disiplin. karena disiplin adalah kebiasaan, bukan bakat bawaan.

Jika kamu ingin badan fit tapi jarang belum olah raga secara teratur, mulailah dengan berolahraga sepuluh atau lima belas menit sehari. Jika ingin bisa berbicara dengan baik, mulailah dengan latihan berbicara 5-10 menit setiap pagi. Jika Anda ingin makan lebih sehat, ubah kebiasaan dari belanja makanan jadi dengan memasak sendiri. Ambil langkah kecil. Akhirnya, ketika pola pikir dan perilaku kita akan mulai berubah.

5. Latihan dengan metode yang Tepat

Salah satu ciri Purposeful Practice adalah merencanakan dan menerapkan metode latihan yang tepat. Ada banyak metode latihan, dan setiap keahlian punya caranya sendiri. Selain itu, setiap individu perlu metode latihan berbeda-beda. Oleh karena itu, sangat penting menemukan metode latihan yang tepat agar latihan kita efektif dan produktif. Berikut ini beberapa metode latihan yang bisa kamu terapkan sesuai dengan keahlian yang kamu inginkan. Metode ini bisa kamu terapkan salah satu atau beberapa, sesuai karakteristik keahlian dan kepribadianmu.

a. Spaced Practice

Spaced practice adalah teknik belajar di mana siswa meninjau, mempelajari, dan berlatih suatu materi dan keahlian dalam jangka waktu yang lama. Hal ini memberikan waktu bagi pikiran mereka untuk membentuk hubungan antara ide dan konsep sehingga pengetahuan dan keahlian dapat dibangun dan mudah diingat kembali nanti. Spaced practice adalah memberikan jarak waktu antar latihan. Lawan dari spaced practice adalah cramming, contoh cramming adalah sistem belajar kebut semalam.

b. Retrieval Practice

Retrieval Practice adalah suatu strategi mempelajari suatu informasi dan memasukkannya ke dalam memori, lalu mencoba mengingat kembali apa yang sudah dipelajari dengan cara memaksa informasi tersebut untuk “keluar” dari ingatan dan mengevaluasi apa yang kita ketahui.

Contoh retrieval practice, setelah kamu mempelajari suatu tutorial, coba langsung praktekkan sendiri tanpa melihat kembali tutorial tersebut. Setelah kamu membaca materi, tutup materi tersebut dan coba ingat kembali apa yang sudah kamu pelajari dan tuliskan kembali.

c. Self Explanation

Dalam beberapa keahlian, memberikan penjelasan, dengan kata-kata kamu sendiri, tentang konsep atau ide yang akan dipelajari dapat membantu. Daripada hanya mengandalkan definisi yang diberikan (misalnya, dari kuliah atau buku teks), coba buat definisi Anda sendiri (sambil tetap memastikan bahwa definisi tersebut akurat).

d. Interleaved Practice

ketika kamu mempelajari dua atau lebih keahlian atau materi, daripada berfokus secara eksklusif pada satu materi atau keahlian pada satu waktu, coba kembangkan keahlian atau pelajari materi tersebut secara bergantian (misalnya, jika kamu mempelajari materi A dan materi B, daripada berlatih hanya A pada satu hari dan hanya B pada hari berikutnya, kamu dapat berlatih keduanya setiap hari dengan memasukkan campuran dari dua materi atau dengan bolak-balik di antara keduanya). Tapi perlu diingat, tidak semua keahlian cocok dengan sistem interleaved practice, pastikan keahlian atau materi tersebut ada kaitannya satu sama lain.

Dari beberapa metode yang dijelaskan di atas, perlu diketahui bahwa beberapa keahlian tidak mudah untuk dilatih secara formal. Maka dari itu yang penting adalah penerapan mindset berlatih, dengan memiliki tujuan yang SMART. Dengan menerapkan mindset latihan, kita akan melihat setiap tugas harian yang ada di depan mata sebagai bahan latihan untuk mengembangkan diri mencapai tujuan kita.

6. Ukur Kemajuan Melalui Self-Assesment dan Feedback

Dalam proses berlatih, sangat penting memperoleh feedback dari orang lain atau dari diri sendiri. Mengukur kemajuan akan membantumu mengetahui posisimu sekarang, dan hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan untuk progress kedepannya.

Sebagai manusia, belum tentu setiap rencana dan usaha kita sudah tepat. Walau sudah tepat, kadang kita mengalami relapsing (kemunduran disiplin), sehingga sangat penting untuk memperoleh feedback dengan cara meminta masukkan dari orang sekitar, atau melakukan assesment diri. Masukan dari orang sekitar bukan hanya bertanya pada mereka, kita juga bisa mencari inspirasi dari berbagai sumber sebagai bahan pembanding dan evaluasi terhadap usaha latihan yang sudah kita jalani.

7. Terus Fokus dan Konsisten

Seperti dijelaskan di awal bahwa elemen penting dari purposeful practice adalah fokus. fokus adalah tindakan memusatkan minat atau aktivitas kamu pada sesuatu. ini memang definisi yang agak membosankan, tetapi ada hal luar biasa ketika kita menerapkannya.

Poin Penting

Latihan akan lebih berdampak dengan menerapkan purposeful practice. Purposeful practice adalah latihan yang memiliki tujuan yang spesifik, fokus, memperoleh feedback melalui pemantauan kemajuan, dirancang gradual dengan tujuan meningkatkan kemampuan, dengan mendorong diri untuk berlatih pada intensitas yang melampaui zona nyaman, berlatih pada sesuatu yang lebih dari kemampuan saat ini yang akan terasa sulit dan menantang.

Menerapkan purposeful practice bisa dengan menerapkan growth mindset, merancang SMART Goals, keluar dari batas nyaman, disiplin, menerapkan metode latihan yang tepat, mengukur kemajuan melalui self assesment, dan tetap fokus dan konsisten.

Dengan menerapkan Purposeful Practice, kamu bisa meningkatkan keahlianmu dengan lebih menantang, efektif, dan memuaskan.

Referensi

  1. Ericsson, K. A., Krampe, R. T., & Tesch-Römer, C. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance. Psychological Review, 100(3), 363-406.
  2. Fadde, P. J., & Klein, G. A. (2014). Deliberate practice in the acquisition of perceptual expertise: A review. Journal of Cognitive Engineering and Decision Making, 8(3), 244-261.
  3. Hambrick, D. Z., Macnamara, B. N., & Campitelli, G. (2019). Beyond born versus made: A new look at expertise. In S. O. Lilienfeld, I. D. Waldman, & J. Ruscio (Eds.), Psychological science under scrutiny: Recent challenges and proposed solutions (pp. 259-273). John Wiley & Sons.
  4. Kaufman, S. B. (2019). The intelligence paradox: Why the intelligent choice isn’t always the smart one. Harvard University Press.
  5. Kaufman, S. B. (2020). Transcend: The new science of self-actualization. TarcherPerigee.
  6. Krampe, R. T. (2016). Aging, expertise and deliberate practice. In K. Ericsson, R. Hoffman, A. Kozbelt, & A. M. Williams (Eds.), Cambridge handbook of expertise and expert performance (2nd ed., pp. 691-710). Cambridge, UK: Cambridge University Press.